Menghakimi

Renungan Sabtu 18 Januari 2020

Bacaan: 1Sam. 9:1-4,17-19; 10:1a; Mzm. 21:2-3,4-5,6-7; Mrk. 2:13-17

Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (Markus 2:16)

Dalam media sosial, para warganet sangat mudah menyampaikan pendapat, masukan, kritikan maupun hujatan bahkan informasi hoaks yang menjurus mengadu domba. Kata-kata maupun kalimat yang disampaikan mengandung unsur menghakimi, iri hati dan kecemburuan sosial. Hal ini sudah terjadi sejak zaman Tuhan Yesus, meskipun tidak sebanyak zaman milenial ini. Para ahli Taurat dari golongan Farisi iri hati dan ada kecemburuan sosial terhadap Lewi (Matius) anak Alfeus yang pekerjaannya sebagai pemungut cukai. Lewi dalam bahasa Ibrani artinya pemberian Tuhan. Para ahli Taurat menganggap profesi pemungut cukai merupakan pekerjaan yang sangat rendah dan memalukan bahkan dianggap berdosa, maka ketika Yesus memanggil Lewi untuk mengikuti-Nya dan makan di rumahnya bersama para pemungut cukai yang lain, mereka langsung bereaksi menghakimi: “Mengapa gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (Markus 2:16). Di zaman milenial ini pun menghakimi orang lain dianggap lazim, orang merasa benar dan sering kata-kata hujatan dilontarkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa kita sadari, kita juga seperti para ahli Taurat dari golongan Farisi yang masih menghakimi orang lain. Kita lupa bahwa setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan, bahkan kita juga orang berdosa namun untuk mencapai tujuan pribadi, kita sering memaksakan kehendak kepada orang lain yang ada di sekitar kita. Hal ini berdampak pada kehidupan kita yang tidak mengalami damai sejahtera dan sukacita Allah.

Mari belajar dari Tuhan Yesus yang memilih Lewi tanpa melihat latar belakang kehidupan masa lalunya. Dia menerima Lewi apa adanya, mengangkat status sosial sebagai murid-Nya tanpa mempermalukannya bahkan diperlengkapi dengan berbagai karunia khususnya sebagai penulis Injil.

Doa: Syukur bagi-Mu Bapa, aku pun orang berdosa telah dipilih dan dipanggil Tuhan Yesus untuk diselamatkan. Engkau merendahkan diri dengan meninggalkan surga untuk menjangkau setiap hati manusia. Bimbing aku untuk semakin rendah hati, beri aku karunia untuk membawa lebih banyak jiwa-jiwa yang haus akan kebenaran firman-Mu. Amin. (ECMW)