Kesaksian Yohanes

Renungan Kamis 2 Januari 2020

Bacaan: 1Yoh. 2:22-28Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4Yoh. 1:19-28;

Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias.” (Yohanes 1:20)

Status yang membanggakan dalam dunia bisa karena jabatan, kekayaan atau kesuksesan, bahkan keturunan mereka pun ikut bangga. Karena mereka merasa hal ini mampu mengangkat martabat mereka di dalam masyarakat, dengan demikian mereka merasa dihormati, dijunjung tinggi bahkan selalu mendapat nama.

Dalam perikop ini, Yohanes mempunyai kesempatan emas untuk mengangkat dirinya sendiri. Jabatan ‘Kristus’ merupakan gelar tinggi dalam masyarakat. Orang-orang Yahudi menantikan Kristus, orang yang diurapi. Dialah keturunan raja besar dan akan menjadi orang besar. Jika Yohanes mengatakan ‘ya’ atas pertanyaan orang-orang Yahudi, ia akan mendapat penghormatan yang tinggi. Orang-orang Yahudi melihat bahwa dalam diri Yohanes ada tanda-tanda ke-Kristus-an. Maka mereka hendak mengklarifikasinya.

Kepada beberapa orang Lewi dan imam yang diutus orang Yahudi dari Yerusalem, Yohanes menegaskan bahwa dirinya bukan Mesias, Elia, atau sosok nabi yang akan datang. Ia justru mengutip ayat dari Kitab Yesaya dan menyatakan diri sebagai orang yang menyerukan persiapan untuk kedatangan Tuhan. Karya baptisannya menunjuk kepada “Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku” (Yoh. 1:26-27), yang adalah referensi kepada Yesus, Sang Firman yang menjadi manusia. Tak hanya itu, Yohanes dengan terus terang menyatakan posisinya di hadapan Dia yang disaksikannya itu, bahwa untuk “membuka tali kasut-Nya pun, aku tidak layak” (Yoh. 1:27). Walau Yohanes tampil di depan dan menjadi pusat  perhatian, kesadarannya akan siapa yang paling tinggi tak pernah hilang. Semua yang ia lakukan tak lebih dari meratakan jalan untuk Yesus.

Sebagai nabi, Yohanes mempersiapkan jalan bagi Mesias. Ia sadar bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa bila dibandingkan dengan Mesias. Yang jauh lebih penting dari dirinya adalah Sang Mesias. Inilah kesadaran Ilahi yang sangat mendalam dalam dirinya. Kristus menjadi pusat dari segalanya, bukan dirinya. Kristus yang memang sudah seharusnya jauh lebih besar dan tinggi dari dirinya. Dari pada-Nya lah keselamatan itu hadir bagi manusia. Yohanes membawa orang kepada Sang Kristus, bukan membawa orang pada dirinya. Ukuran paling tinggi adalah ketika orang yang mengikutinya sampai pada Sang Kristus.

Yohanes patut menjadi teladan kita semua sebagai anak-anak Allah, khususnya kita yang aktif di dalam pelayanan. Bintang utama dalam pelayanan bukanlah diri kita. Maka jangan biarkan diri kita menjadi sasaran perhatian orang, apalagi sampai membiarkan diri menikmati segala pujian yang muncul karena kerja pelayanan kita. Jangan pernah lupa bahwa Yesus Kristus adalah tujuan dan bintang utama dari segala pelayanan kita. Semua karya kita tak lebih dari kesaksian kita yang mengantarkan orang lain kepadaTuhan, Sang Firman yang adalah terang itu.

Maka, mengawali tahun ini, kita diajak untuk semakin memurnikan hidup dan panggilan kita. Diagungkan dan dipuji banyak orang sering kali menjadi kebanggaan diri. Tidak jarang orang berpikir “aku dipuji, aku diakui, maka aku ada”. Maka mari kita pelan-pelan “bermetamorfosis”, mendapat pujian atau tidak, diakui atau tidak, kita tetap akan ada. Saat ini bagi kita adalah kebahagiaan terbesar ketika kita berani mengakui dengan seluruh hidup kita bahwa Kristus adalah Tuhan. Seperti Yohanes Pembaptis, ia mengantar orang pada Sang Kristus. Mari kita juga semakin mengarahkan diri kepada-Nya.

Doa: Ya Tuhan, ajarilah kami untuk semakin mengarahkan hidup dan pikiran kami kepada-Mu. Semoga kami semakin berani memberikan diri dalam banyak perkara. Kuatkan kami ketika kami mengalami ketakutan, dampingi kami ketika kami dalam kegelapan, tuntunlah kami ketika kami tersesat. Tuhan, kami persembahkan seluruh hidup kami ke dalam naungan kasih-Mu. Amin. (SWW)