Berbuat Baiklah

Renungan Rabu 22 Januari 2020

Bacaan: 1Sam. 17:32-33,37,40-51Mzm. 144:1,2,9-10Mrk. 3:1-6

Kemudian kata-Nya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Tetapi mereka itu diam saja. (Markus 3:4)

Shalom saudara terkasih.

Ketika Yesus bertanya kepada orang Farisi apa yang diperbolehkan pada hari sabat berbuat baik atau berbuat jahat dan mereka hanya diam, bukan berarti mereka tidak bisa menjawab tapi mereka diam karena kekerasan hati mereka. Mereka lebih mengutamakan adat istiadat nenek moyang mereka secara turun temurun daripada berbuat kebaikan.

Mengapa hal ini terjadi? Karena mereka tidak ingin menjadi bahan perbincangan orang-orang hanya karena melanggar adat istiadat yang sudah ada secara turun temurun.

Pernahkah kita menyadari, bahwa kita pun sering dihadapkan pada situasi seperti di atas. Mana yang didahulukan perbuatan kasih atau mematuhi adat istiadat. Saudaraku terkasih saya terlahir dari keluarga totok dan orang tua saya sampai saat ini masih tetap totok. Saya sudah menjadi Katolik sejak saya lulus SMA. Orang tua saya sangat kuat sekali dalam adat istiadat. Ada suatu kejadian di mana ada saudara saya meninggal dan mereka membutuhkan bantuan untuk upacara tutup peti. Saat itu saya ingin datang dan membantu mereka. Tapi apa yang terjadi orang tua saya langsung berkata, “Tidak boleh melihat jenazah karena nanti kamu akan sial.” Saya tetap datang untuk membantu saudara saya tersebut.

Saya percaya kejadian yang saya alami itu juga pernah dialami oleh kita semua. Kita diharuskan untuk memilih perbuatan kasih atau mematuhi adat istiadat. Sebagai murid Yesus sudah jelas mana yang harus kita lakukan, utamakan perbuatan kasih seperti yang sudah Yesus ajarkan kepada kita. Saya percaya dengan bimbingan Roh Kudus akan memampukan kita untuk berbagi kasih kepada sesama. Tuhan memberkati. Amin. (SNA)