Ulurkan Tangan Kananmu

Renungan Kamis 12 Desember 2019

Bacaan: Yes. 41:13-20Mzm. 145:1,9,10-11,12-13abMat. 11:11-15

Aku ini TUHAN, Allahmu. Aku memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu, “Janganlah takut. Akulah yang menolong engkau.” (Yesaya 41:13)

Kita – manusia – mempunyai banyak ketakutan ketakutan, mulai dari takut akan roh-roh jahat, takut akan sakit, takut akan kemiskinan, takut akan kegagalan, takut akan kehilangan cinta, takut akan kehilangan harga diri dan takut akan kematian.  

Tuhan yang sangat mengerti akan kelemahan kita dan sekaligus sangat mencintai kita selalu membesarkan hati kita agar kita berani mengalahkan rasa takut tersebut.

Dalam Alkitab baik Perjanjian Baru maupun Perjanjian Lama, kata-kata “jangan takut” dituliskan berulang-ulang, bahkan ada yang mencatat bahwa kata tersebut ditulis sebanyak 365 kali. Jika hendak dimaknai secara terbatas, akan tersedia satu ayat dari Tuhan untuk setiap harinya selama satu tahun penuh namun dalam arti luas,  berarti kita tidak perlu takut sepanjang masa karena kita berjalan bersama Tuhan.

Pada ayat di atas Tuhan mengatakan dengan sangat jelas dan lugas agar kita tidak perlu takut, karena Ia akan memegang tangan kanan kita, ya tangan kanan yang pada umumnya kita gunakan untuk bekerja, berpegangan dan beraktivitas. Namun kali ini Ia meminta agar kita gunakan untuk menggenggam tangan-Nya. Hal ini berarti bahwa kita pertama-tama diminta untuk menyerahkan segala perkara dalam tangan-Nya sebelum kita melengkapinya dengan daya upaya kita. Dapat diartikan pula bahwa Ia akan selalu membimbing kita dalam setiap perjalanan hidup yang kita lalui, baik dalam suka maupun duka, ketika sedang berada dalam kebingungan atau kepastian, kesuksesan atau kegagalan dan kita tidak perlu takut karena Ia selalu bersama kita.

Ketika suami saya baru menjalani operasi penutupan usus yang berlubang, dokter telah mengingatkan bahwa ada kemungkinan jahitan tersebut terbuka kembali mengingat berbagai faktor yang ada di suami saya. Dokter menyatakan bahwa masa pemulihan bisa mencapai lima bulan sebelum operasi tersebut dinyatakan berhasil. Setiap hari saya berdoa agar jahitan tersebut segera menyatu dan ia dapat melewati lima bulan tersebut. Saya membayangkan dengan ketakutan bahwa jika operasi tersebut gagal, maka ia harus menjalani semuanya dari awal lagi, saya membayangkan suami saya akan sangat tertekan, aktivitas pekerjaannya menjadi terganggu, kehidupan seluruh keluarga juga terpengaruh, dana operasi dan perawatan yang tidak murah pun melayang terbang. Pokoknya saya merasa tidak akan sanggup lagi menjalaninya.

Semuanya berjalan baik sampai pada suatu siang, empat setengah bulan setelah operasi, suami saya merasakan kesakitan yang sangat dan seketika itu saya tahu bahwa operasi tersebut gagal dan lubang di ususnya telah terbuka kembali. Rasa ketakutan dan kekecewaan menyergap saya, gambar-gambar yang saya takutkan berkelebatan di kepala saya. Namun itu terjadi hanya sekejap, karena ketika saya berseru dalam hati: “Tuhan tolong kami..”, Tuhan segera menjawab doa saya, saya merasakan ketenangan dan keberanian hati, demikian juga suami saya yang dapat menerima kondisi yang terjadi tanpa banyak mengeluh kepada-Nya dalam rentang waktu sekitar dua setengah tahun melewati operasi demi operasi.  

Di sepanjang proses tersebut Tuhan membuktikan bahwa Dia tidak membiarkan saya berjalan dalam kegelapan dan ketakutan sendiri, melainkan selalu menggenggam tangan saya sehingga apa yang saya pikir tidak dapat menanggungnya, ternyata dapat saya lewati dan pada akhirnya saya menjadi seorang yang lebih percaya akan kasih-Nya.

Jadi mari kita berpegang pada janji Tuhan pada ayat di atas, dalam perjalanan hidup kita, dalam setiap persoalan yang kita hadapi, sehingga kita dapat benar-benar mencapai kebebasan batin dari segala rasa takut dan kekhawatiran. Percayalah bahwa janji Tuhan untuk senantiasa menyertai kita adalah ya dan amin.

Doa: Allah Bapa yang maha baik, kami sadar bahwa seringkali kami masih penuh ketakutan dan kekhawatiran dalam menjalani hidup ini, kami masih belum menyerahkan seutuhnya pada bimbingan-Mu melainkan masih mengandalkan kekuatan kami sendiri. Hari ini Engkau mengingatkan kembali bahwa kami tidak perlu takut karena Engkau selalu menggenggam tangan kami. Anugerahkan kami  iman dan harapan yang besar yang membuat kami mampu menyerahkan diri dalam bimbinganmu, menyerahkan tangan kanan kami pada bimbingan-Mu. Amin. (LSL)