Perjumpaan Yang Membawa Sukacita

Renungan Sabtu 21 Desember 2019

Bacaan: Kid. 2:8-14 atau Zef. 3:14-18aMzm. 33:2-3,11-12,20-21Luk. 1:39-45

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. (Lukas 1:39)

Saat membaca dan merenungkan perikop Injil hari ini, saya terkesan dengan ayat di atas. Terlintas dalam imajinasi saya dan berusaha menghayati serta merasakan apa yang dialami oleh Bunda Maria. Bagaimana Bunda Maria yang terkejut, menyangkal dan akhirnya pasrah dengan penuh kerendahan hati menyerahkan diri pada kehendak dan rencana Allah (Luk. 1:26-38), bergegas dan bersegera tidak menunda waktu, mengunjungi Elizabeth, saudaranya. Bukan tanpa  alasan, orang pertama yang dikunjungi Bunda Maria setelah peristiwa besar itu ialah Elizabeth (Luk. 1:36).

Jarak yang terbentang, rintangan, penghalang yang mungkin ada (penulis tidak menuliskan angka, kondisi jalan atau alat transportasi yang dipakai) tidak menyurutkan niat untuk segera bertindak, mengalahkan kepentingan diri, keluar menjumpai seseorang untuk berbagi rasa.

Sabda Tuhan hari ini mengajarkan dua hal kepada saya, yaitu:

  1. Pentingnya perjumpaan secara fisik atau nyata antara sesama manusia. Melalui perjumpaan secara langsung, tidak hanya mata dan telinga yang teraktivasi, tapi juga rasa, hati, empati kita ikut teraktivasi yang akhirnya mewujudkan ucapan syukur melalui perkataan. Sebagaimana yang diungkapkan Elizabeth (Lukas 1:44), salam atau ucapan positif yang didengar telinga mampu memberikan sukacita dan kebahagiaan bagi yang mendengarnya.
  2. Perjumpaan antar manusia hendaknya saling meneguhkan dan memberkati satu dengan yang lain. Bunda Maria dan Elizabeth adalah perempuan-perempuan yang dipilih Tuhan untuk menyatakan karya dan kuasa-Nya. Bunda Maria dipilih untuk mengandung Yesus Sang Juru Selamat dunia, sedangkan Elizabeth dipilih untuk menerima anugerah kesempurnaan wanita dengan mengandung dan melahirkan seorang anak di usia lanjutnya. Atas rencana Tuhan mereka dipertemukan untuk berbagi sukacita, berkat serta saling meneguhkan (Lukas 1:41-45).

Sebagai murid Kristus, kita pun percaya bahwa Tuhan berkarya dan bekerja pada diri pribadi kita masing-masing melalui segala peristiwa yang kita alami. Kita diajak untuk saling bertemu, berbagi sukacita maupun dukacita, saling meneguhkan untuk semakin percaya bahwa Tuhan senantiasa menyertai hidup kita dan saling memberkati melalui perkataan dan perbuatan kita, supaya berkat dan kasih Tuhan semakin dirasakan dan diterima banyak orang melalui perjumpaan kita dengan sesama.

Doa: Allah Tritunggal yang Maha Pengasih dan Pemurah, bimbing dan mampukan kami (secara khusus ibu-ibu yang besok akan memperingati Hari Ibu) untuk meneladan Bunda Maria dan Elizabeth yang telah Kau pilih untuk ikut andil dalam karya keselamatan-Mu. Arahkan selalu hati dan pikiran kami untuk menyadari kehadiran dan penyertaan-Mu dalam hidup kami, serta tambahkan iman kami untuk berani berbagi berkat dan kasih-Mu serta memberikan peneguhan kepada setiap orang yang kami jumpai. Agar kami layak turut serta dalam karya keselamatan-Mu. Engkaulah Tuhan, harapan, kekuatan dan Juru Selamat kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin. (CEI)