Mencari Yang Tersesat

Renungan Selasa 10 Desember 2019

Bacaan: Yes. 40:1-11Mzm. 96:1-2,3,10ac,11-12,13Mat. 18:12-14

Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? (Matius 18:12)

Dari semula Allah merancangkan yang baik untuk manusia. Allah membuat taman Eden dan menyediakan semua yang dibutuhkan manusia dalam taman itu. Sayangnya, oleh tipu daya dan kelicikan Iblis, manusia akhirnya jatuh ke dalam dosa. Iblis bekerja dengan memutarbalikkan kebenaran. Ia menggugat kebenaran Allah dan menanamkan kebenaran semu di dalam pikiran Hawa. Hawa terperangkap, ia sepakat dengan dusta Iblis bahkan mengajak Adam untuk sama-sama makan dari buah pohon terlarang itu. Akibatnya mereka terusir dari taman Eden dan kehilangan semua yang baik yang Allah telah sediakan. Manusia tersesat karena mencoba mencari jalannya sendiri di luar Allah.

Kita patut bersyukur karena Allah begitu mengasihi kita. Kita memang berdosa, tetapi Allah tidak melihat kita sebagai orang hukuman yang harus menerima ganjaran akibat salah kita. Allah melihat kita sebagai orang yang tersesat. Itu sebabnya Ia mencari kita. Hari berganti, minggu berganti, bulan berganti, bahkan tahun berganti, Allah tidak kenal lelah terus mencari dan memanggil nama kita. Sama seperti ketika Ia mencari dan memanggil Adam: Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” (Kejadian 3:9).

Banyak peristiwa di hidup kita yang mungkin tak dapat kita mengerti. Peristiwa yang sempat membuat kita tercenung. Seperti ada sesuatu yang adikodrati terlibat di dalamnya. Kita baru saja terluput dari kecelakaan yang mengerikan misalnya. Atau kita berhasil melewati tahapan panjang seleksi penerimaan karyawan baru. Mungkin pula, setelah sekian lama menunggu akhirnya kita mendapatkan keturunan. Adakah semua itu terjadi secara kebetulan? Apakah iblis sedemikian baiknya mau melakukan hal itu untuk kita? Kalau bukan si jahat, lalu siapa? Ya, itu Allah. Dia bekerja dengan cara-Nya yang ajaib agar dapat bertemu dengan kita.

Setelah sekian lama Ia mencari dan akhirnya menemukan kita, maukah kita kembali kepada Allah? Maukah kita ditempatkan kembali dalam “kawanan domba” milik-Nya agar senantiasa terpelihara?

Pada masa Adven ini, marilah kita tetap berada dekat dengan sang Gembala dan memperkenankan Dia menemukan diri kita dalam cara yang baru dan lebih mendalam. Ia ingin memimpin kita ke dalam suatu keakraban yang lebih dalam dengan diri-Nya, sehingga di atas bumi ini kita dapat mencicipi apa yang kita akan peroleh kelak dalam perjamuan surgawi kekal.

Doa: Tuhan yang baik. Terima kasih telah mencari dan menemukanku. Jangan biarkan aku tersesat dan terhilang lagi. Amin. (IMH)