Memberi Dengan Penuh Belas Kasih

Renungan Rabu 4 Desember 2019

Bacaan: Yes. 25:6-10aMzm. 23:1-3a,3b-4,5,6Mat. 15:29-37

Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.” (Matius 15:32)

Suatu ketika saya mengetahui bahwa ternyata begitu banyak cara yang dipakai seorang pengemis untuk mengetuk hati orang agar luluh dan mau memberi uang. Ada yang pura-pura cacat, wajah kusut memelas, mengucap sederet doa, bahkan ada yang menggendong bayi sedang menangis, dan banyak lagi. Tetapi sebagian besar dari semua itu adalah “acting” belaka demi mendapat belas kasihan. Hal inilah yang membuat saya menjadi apatis, acuh, pelit dan tidak mau mengulurkan tangan untuk memberi sekadar uang ketika ada pengemis datang meminta.

Pada saat yang lain, ketika saya menegur dan mencegah teman yang akan memberi uang kepada seorang pengemis, dengan enteng dia menjawab, “Kalau kita mau memberi, berikan saja dengan ikhlas. Tidak usah kamu berpikir negatif terhadap orang yang kita beri karena itu akan membuat pikiranmu tersiksa.” Kata-kata teman itu telah menyentak pintu kesadaran saya bahwa memberi itu harus ikhlas tanpa pamrih.

Ada dua kemungkinan sikap yang muncul ketika ada orang lain datang kepada kita untuk minta pertolongan. Pertama, kita tidak peduli, menghindar seraya mencari alasan untuk membenarkan diri misalnya tidak ada waktu, saya sendiri masih kurang, dan sebagainya. Itu pun masih ditambah dengan menggerutu. Kedua, ada dorongan belas kasih dari diri kita untuk menolong orang itu.

Dalam Injil hari ini, kedua sikap itu terlihat dengan jelas. Pertama, para murid yang berat hati dan mencari alasan untuk tidak memberi makanan. “Bagaimana mungkin di tempat sunyi ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?” (Mat. 15:33). Kedua, sikap Yesus yang melihat keprihatinan mereka, seketika peka dan peduli lalu berbuat. “Hatiku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini…” (Mat. 15:32). Yesus tahu bahwa tempat itu sunyi jauh dari kampung sehingga perlu waktu untuk membeli makanan. Yesus tahu bahwa jumlah orang itu begitu banyak. Yesus  tahu bahwa bekal para murid hanya untuk rombongan sendiri. Yesus juga tahu kekhawatiran para murid akan perutnya sendiri. Tetapi belas kasih Yesus mengatasi semua alasan itu. Dia melihat, Dia peduli, Dia berbuat. Setelah mengucap syukur, Ia membagi-bagi roti itu dan memberikan kepada para murid untuk diberikan kepada orang banyak. Mereka semua makan sampai kenyang. Bahkan masih sisa tujuh bakul.

Teladan Tuhan Yesus inilah yang sekarang menguatkan saya untuk mau melihat, peduli, dan berbuat kasih. Kasih yang tulus dan sepenuhnya bersandar pada kuasa Tuhan Yesus, akan membuka jalan bagi kita untuk mau berbagi berkat kepada sesama dan akan meringankan beban saudara-saudara kita. Kasih yang tulus untuk memberi tidak akan melihat siapa yang kita beri, baik agama, suku, warna kulit status sosial dan semacamnya. 

Marilah kita tingkatkan kepekaan kita terhadap keprihatinan orang lain sekaligus berbuat nyata bagi mereka. Jangan kita menunggu kaya untuk memberi, dalam kekurangan pun kita masih bisa berbagi. Bukan hanya berupa materi, tetapi juga non materi. Marilah kita tanamkan dalam-dalam di hati kita kesediaan memberi dengan penuh belas kasih. 

Doa: Tuhan Yesus, mampukan aku untuk mau melihat, peduli dan berbagi berkat kepada sesama kami supaya kasih-Mu semakin dirasakan oleh banyak orang. Amin. (MYM)