Dia Sudah Datang

Renungan Sabtu 14 Desember 2019, Peringatan Wajib St. Yohanes dari Salib

Bacaan: Sir. 48:1-4,9-11Mzm. 80:2ac,3b,15-16,18-19Mat. 17:10-13

“…dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” (Matius 17:12)

Kita merayakan Natal setiap 25 Desember, di mana kita mempersiapkan diri untuk menyambut kelahiran Yesus Kristus. Kelahiran selalu merupakan peristiwa sukacita, kelahiran seorang anak, apalagi anak yang telah lama dinantikan kehadirannya dalam suatu keluaga, tentunya akan disambut dengan segala yang terbaik.

Natal bukan hanya masalah menyambut kelahiran Yesus Kristus, kita perlu memperingatinya sebagai momen di mana Yesus Kristus telah lahir, berada ada di tengah-tengah kita dengan kasih-Nya yang begitu besar untuk menderita bahkan mati di kayu salib karena dosa-dosa kita.

Yesus telah datang dan ada di tengah-tengah kita saat ini. Natal bukan hanya peringatan semata, perayaan sukacita sesaat dan setelah semua perayaan selesai kita lupa bahwa Dia telah datang, telah ada di tengah-tengah kita.

Untuk mempersiapkan menyambut kelahiran seorang anak, banyak proses yang harus dilewati, perlu perjuangan, pengorbanan, bahkan taruhan nyawa dari seorang ibu agar seorang anak bisa lahir. Ketika anak lahir ada rasa sukacita menyelimuti seluruh keluarga, seakan-akan seluruh jerih payah dan pengorbanan selama sembilan bulan terhapuskan. Namun apakah segala yang terbaik selama mempersiapkan dan sukacita karena kelahiran tersebut akan tetap sama bisa dirasakan anak itu kelak dalam proses pertumbuhannya?

Setelah dua tahun perkawinan, saya dikaruniai seorang putri sebagai hadiah terindah dari Tuhan. Anak ini membawa keceriaan, sukacita baru di tengah-tengah keluarga, segala yang terbaik kami siapkan dan upayakan. Namun dalam perkembangannya, saya memperlakukan anak dengan seturut kehendak saya, dia yang awalnya menjadi pembawa sukacita malah menjadi korban yang harus menderita. Bukan keinginannya yang saya lakukan tapi keinginan saya yang harus dia lakukan, bukan apa yang terbaik bagi dia tapi apa yang terbaik menurut saya yang terjadi.

Yesus telah lahir dan selalu menyertai kita sepanjang segala abad. Apakah kita mengenal Dia seturut kehendak-Nya atau mengenal Dia seturut kehendak kita? Apakah kita akan menyenangkan Dia pada saat Natal saja dan membuat-Nya menderita sepanjang 345 hari lainnya?

Tidak mudah menjadi murid Yesus dan tidak mudah menyangkal diri untuk sepenuh hati memikul salib yang dibebankan oleh-Nya. Kadang bisa timbul keraguan, apakah kehendak-Nya memang yang benar dan yang terbaik. Namun di saat kita mau menyadari arti kedatangan-Nya dan mau bertobat, sukacita yang ada karena kelahiran Sang Juru Selamat bukan hanya ada di saat Natal semata tapi semangat Natal akan selalu tinggal bersama kita.

Doa: Terima kasih Tuhan untuk selalu peduli kepada kami, selalu mengutus nabi-nabi seperti Elia dan Yohanes Pembaptis, mengutus murid-murid-Mu dalam rupa orang-orang di sekeliling kami yang menuntun kami kepada pertobatan. Sebab kami percaya mukjizat terbesar adalah pertobatan karena hanya dengan pertobatan kami berhenti untuk membuat Engkau menderita dan bisa mengalami sukacita bersama-Mu. Kuatkan kami dalam proses pertobatan ini Tuhan, agar kami bisa menjadi pribadi yang lebih baik, yang menyenangkan hati-Mu. (MEN)