Berkat Dari Roh Kudus

Renungan Kamis 26 Desember 2019, Pesta St. Stefanus Martir Pertama, Hari kedua dalam Oktaf Natal

Bacaan : Kis. 6:8-10; 7:54-59Mzm. 31:3cd-4,6,8ab,16bc,17Mat. 10:17-22

Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu. (Matius 10:20)

Shalom Sahabat SEP dan KEP.

Dunia yang kita lihat dan jalani adalah dunia yang sangat egois, penuh persaingan, permusuhan, saling memanfaatkan, saling menyakiti. Bacaan Injil hari ini mengingatkan kita kembali akan salah satu hidup kelimpahan yang dari Tuhan, kelimpahan dalam hikmat kebijaksanaan melalui Roh Kudus-Nya (Mat.10:20).

Setiap kita yang percaya kepada Tuhan Yesus dan dibaptis, Roh Kudus diberikan tinggal dalam diri kita untuk menolong agar kita dapat menjalani hidup di dalam segala kelimpahan yang dari Tuhan. Anak-anak Allah yang menyadari dan mensyukuri hal ini serta membina relasi dan komunikasi dengan Tuhan dalam hidup sehari-harinya, dan hidupnya dipenuhi dipimpin Roh Kudus, hidup kelimpahan yang dari Tuhan akan dialami di dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, studi, pekerjaan, menggereja, bermasyarakat dan di seluruh sisi hidupnya.

Bacaan hari ini mengingatkan akan keterbatasan pengetahuan dan kebijaksanaan manusiawi saya, dan pentingnya selalu terbuka akan bimbingan Roh Kudus, seperti yang dialami Stefanus saat berbicara dengan beberapa orang Yahudi, di mana  mereka tidak sanggup melawan hikmatnya, karena Roh Kudus yang mendorong dia berbicara (Kis. 6:10).

Sharing :

Beberapa tahun lalu, saya mengunjungi seorang relasi bisnis, kami mengobrol di tokonya. Saat menyampaikan Kabar Baik, dengan berbagai alasan dia berusaha untuk menghindar. Akhirnya dengan jujur dia mengatakan, dia tidak percaya Kabar Baik tentang Yesus.

Dia mulai bercerita tentang pengalaman pahit, dengan seorang kristiani yang selama ini sangat dekat dengan dia dan aktif mengajak untuk masuk ke gerejanya. Suatu hari orang itu datang ke toko dia untuk mencari satu barang, setelah menanyakan harganya, orang tersebut pergi dan tidak jadi beli. Sore hari, orang tersebut balik hanya untuk mengatakan, “Barangmu mahal, tadi siang dari sini saya ke toko A, ternyata di sana lebih murah. Saya beli di sana.” Setelah itu orang tersebut pergi.

Pemilik toko ini bertanya balik kepada saya, “Apakah itu kasih? Katanya Tuhan Yesus mengajarkan kasih, kalau kasihnya seperti itu, buat apa saya ke gereja. Setiap toko harganya bisa berbeda. Kalau dia tidak beli di sini, tetapi beli di toko lain, saya juga tidak apa-apa, karena itu hak setiap pembeli. Tetapi mengapa dia khusus balik hanya untuk mengatakan barangmu mahal, aku sudah beli di tempat lain dan kemudian dia pergi. Itukah kasih?”

Saya terdiam. Itu adalah fakta yang menyakitkan. Dalam hati saya hanya berseru,”Tuhan, tolong saya.” Tuhan tidak mengecewakan. Roh Kudus menggerakkan hati saya untuk mengatakan sesuatu yang menyimpang, “Tokomu bersih ya.”

Dia menjawab, “Jelas bersih, karena setiap hari disapu dan dilap pegawai-pegawai saya.”

Saya katakan,” Buat apa dilakukan setiap hari. Satu kali saja kan sudah bersih.”

Dia jawab, “Tidak bisa, tokoku di pinggir jalan yang ramai dan debu-debu terus masuk. Maka perlu dibersihkan setiap hari.”

Dengan tersenyum saya menjawab, “Persis sama dengan orang yang Anda ceritakan tadi. Saat seseorang menerima Yesus menjadi Juru Selamat dan Tuhan di dalam hidupnya, semua dosa kesalahannya dihapus bersih. Dia diangkat menjadi anak Allah dan membagikan kasih dan terang Kristus kepada setiap orang yang dijumpai. Dia perlu terus-menerus berelasi dengan Tuhan, agar karakter Tuhan Yesus terbentuk di dalam dirinya. Itulah ajaran Tuhan. Sayangnya ada orang-orang kristiani yang membiarkan debu-debu dosa melekat kembali dalam dirinya dan tidak segera membersihkan, tidak seperti yang Anda lakukan dengan toko ini setiap hari, sehingga hidupnya justru menjadi batu sandungan. Tampaknya orang yang Anda ceritakan termasuk yang di golongan ini. Jadi bukan ajaran Tuhan yang salah dan tidak berguna.”

Puji Tuhan, orang tersebut dapat menerima hal tersebut.

Ini semua karena bimbingan Roh Kudus, saya hanya menyampaikan kata-kata dengan mengikuti gerakan hati, karena Roh Kudus tinggal di dalam hati setiap orang percaya.

Doa: Allah Roh Kudus, penuhi dan pimpinlah hidupku, agar mampu menghidupi tujuan hidup sebagai anak Allah, dalam menuju keserupaan dengan Kristus. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin. (HLTW)