Keputusan

Renungan Selasa 19 November 2019

Bacaan: 2Mak. 6:18-31Mzm. 3:2-3,4-5,6-7Luk. 19:1-10

Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” (Lukas 19:8)

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang akan dihadapkan pada pilihan untuk memutuskan sesuatu. Ada sebagian orang mengambil keputusan berdasarkan situasi dan kondisi setempat, atau berdasarkan suara terbanyak, ada juga yang mengambil keputusan sesuai dengan kehendak Tuhan. Masalah akan muncul ketika orang tidak punya rasa takut akan Tuhan sehingga tidak mampu mendengarkan suara Tuhan sehingga ketika memilih suatu keputusan ternyata berdampak negatif terhadap dirinya.

Dalam bacaan hari ini ada dua tokoh yang dipakai Tuhan sebagai teladan dalam mengambil suatu keputusan. 

Pertama, Eleazar seorang ahli Taurat yang utama dan sejak dari muda sudah hidup benar di hadapan Allah, dia mampu memelihara imannya dengan baik sampai akhir hidupnya. Eleazar dihadapkan pada pilihan untuk memilih mengikuti perintah raja agar mengingkari hukum Allah dengan cara mengikuti ajakan para pengurus perjamuan korban yang sudah dikenalnya dengan baik untuk berpura-pura makan daging babi supaya dia tidak dihukum atau memilih tidak makan daging babi dan tidak mengingkari hukum Allah, tapi dia dihukum mati. Eleazar orang yang bijaksana dan takut akan Tuhan serta memikirkan masa depan umat Allah. Dia tidak mau menjadi batu sandungan bagi kaum muda dan umat Allah. Katanya: “Berpura-pura tidaklah pantas bagi umur kami, supaya janganlah banyak pemuda kusesatkan juga, oleh karena mereka menyangka bahwa Eleazar yang sudah berumur sembilan puluh tahun beralih kepada tata cara asing.” (2Mak. 6:24)

Dia mengambil keputusan yang baik, pantas bagi umurnya yang sudah lanjut, dan dengan kejernihan hatinya dia menolak dengan tegas ajakan para pengurus korban tersebut, yang merupakan sahabatnya namun berbalik memusuhinya karena keputusan Eleazer tersebut dan segera dia menuju tempat siksaan untuk disiksa, dan dipukuli sampai ia meninggal dunia.

Demikian berpulanglah Eleazar dan meninggalkan kematiannya sebagai teladan keluhuran budi dan sebagai peringatan kebajikan, tidak hanya untuk kaum muda saja, tetapi juga bagi kebanyakan orang dari bangsanya. (2Mak. 6:31)

Kedua, Zakheus seorang pemungut cukai memanjat pohon ara untuk melihat Tuhan Yesus. Kerinduan Zakheus terjawab ketika Yesus memandangnya dan berkata, “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”(Luk. 19:5). Zakheus memutuskan untuk memilih menerima Yesus dalam rumahnya, meskipun banyak orang bersungut-sungut dan menghakiminya sebagai pendosa.

Perjumpaan Zakheus dengan Tuhan Yesus dan penerimaan Yesus di rumahnya mengubah pola pikirnya. Dia memutuskan untuk membagikan harta miliknya bagi orang miskin dan bagi orang-orang yang mungkin pernah diperasnya (Lukas 19:8). Hal ini menunjukkan salah satu cara pertobatannya. Dia mau lepas dari zona nyamannya, lepas dari keterikatan duniawi yang selama ini mengikatnya dan membuatnya tidak sejahtera. Keputusan Zakheus tidak hanya berdampak pada dirinya saja  tetapi juga bagi orang-orang papa, orang miskin, orang yang mengalami ketidakadilan yang ada di sekitarnya. Mereka mengalami berkat dari Zakheus untuk kesejahteraan dan keselamatan mereka.

Tuhan, Engkaulah perisai yang melindungiku. Engkau kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku. Ketika aku berseru kepada-Mu, Engkau menjawab dari gunung-Mu yang kudus. Beri aku hikmat-Mu, agar aku mampu untuk memilih suatu keputusan yang menyelamatku dan menyelamatkan orang-orang yang ada di sekitarku. Amin. (ECMW)