Kemurnian Hati

Renungan Sabtu 9 November 2019

Bacaan: Yeh. 47:1-2,8-9,12 atau 1Kor. 3:9b-11,16-17Mzm. 46:2-3,5-6,8-9Yoh. 2:13-22

Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” (Yohanes 2:16)

Ketika sudah dekat hari Raya Paskah orang Yahudi, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam bait suci didapati pedagang-pedagang lembu, kambing, domba dan merpati, serta penukaran penukaran uang duduk di situ. Yesus mengusir mereka semua dari bait suci. Yesus marah karena mereka berdagang di Bait Allah di mana mereka melihat ada peluang untuk memcari keuntungan sendiri. Karena banyak orang Yahudi dari berbagai daerah pergi ke Bait Allah dan memberikan persembahan sebagai korban bagi Allah di mana mereka membutuhkan binatang untuk dipersembahkan bagi Allah. Mereka tidak dapat menghargai bahwa Bait Allah adalah tempat yang suci, tempat beribadah kepada Allah.

Begitu juga dalam kehidupan saya pada saat mengalami kebangkrutan. Pikiran saya mulai memikirkan cara cara untuk bisa memulihkan usaha saya dengan mulai mencari keuntungan dan memikirkan menawarkan dagangan saya kepada umat di mana saya berkomunitas. Saat pikiran mulai timbul, Tuhan mengingatkan saya bahwa saya mulai tidak murni lagi. Saya harus sungguh-sungguh berdoa, bersekutu dengan Tuhan saat hadir di persekutuan doa. Tuhan akan menolong usaha saya dengan cara Tuhan. Maka saya berusaha menghapus pikiran untuk datang ke persekutuan doa dengan harapan menawarkan barang dagangan saya.

Tuhan ingin hati saya murni, datang ke persekutuan doa hanya untuk berdoa kepada Tuhan, memuji Tuhan, bersyukur, memuliakan Tuhan dan merasakan kasih-Nya. Memang benar, saat saya berusaha menjaga kemurnian hati saya, Tuhan menolong saya dari kebangkrutan, bukan dari menawarkan dan menjual barang dagangan saya kepada anggota persekutuan doa, tetapi melalui jasa perantara, sehingga hutang saya lunas. Memang saya juga sering mengalami didatangi orang yang menawarkan barang dagangannya kepada saya, bahkan agak memaksa, di situ saya merasa terganggu dan tidak nyaman. Puji Tuhan, bahwa saya tidak melakukan hal yang membuat umat tidak nyaman.

Terima kasih Tuhan atas bimbingan-Mu dalam hidup saya, sehingga saya dapat mempertahankan kemurnian hati dalam beribadah dan melayani pekerjaan-Mu. Semoga saya tetap setia selamanya. Amin. (KSM)