Hamba Yang Baik

Renungan Rabu 20 November 2019

Bacaan: 2Mak. 7:1,20-31; Mzm. 17:1,5-6,8b,15; Luk. 19:11-28

Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. (Lukas 19:17)

Apa tujuan hidup kita? Apakah berkeluarga dan bertanggung jawab atas anak-anak yang terlahir dan mengantar mereka hidup sukses? Inikah tujuan utama manusia? Kalau memang demikian, bagaimana halnya dengan orang yang tidak menikah, tidak dikarunia anak dan tidak mencapai hidup sukses baik bagi dirinya ataupun anaknya? Biasanya mereka disebut gagal dalam hidupnya.

Tetapi sesungguhnya Tuhan tidak meletakkan manusia di bumi hanya untuk tujuan bagi diri manusia itu sendiri. Selalu harus disadari bahwa Tuhan menaruh manusia di bumi sebagai bagian dari rencana besar-Nya bagi dunia ini. Tiap-tiap kita diberi misi pribadi dalam rencana besar ini. Tetapi sayangnya, banyak orang merasa tidak punya sesuatu yang berguna untuk ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Padahal sebenarnya untuk melaksanakan misi ini, Allah Bapa kita telah memperlengkapi kita dengan bakat-bakat alami yang beraneka ragam. Bila bakat ini diwujudkan sedikit demi sedikit dalam kerohanian, maka akan berkembang menjadi talenta yang indah bagi Tuhan.

Seorang yang dikaruniai kepiawaian dalam pekerjaan yang menggunakan kecanggihan komputer, suatu waktu diminta bantuannya untuk menyunting gambar-gambar yang akan diterbitkan di media parokinya. Awalnya dia merasa ragu melakukannya. Namun pada saat dia bersedia dan mulai mencoba, beberapa lama kemudian dia bahkan menjadi penanggung jawab utama dalam perencanaan sampai penerbitan media paroki tersebut.

Satu hal perlu disadari, kita sering ragu melakukan sesuatu karena merasa kurang pengalaman dalam hal itu. Tetapi kita tidak boleh lupa, begitu kita mulai bergerak, Tuhan akan turun tangan dan menyertai karya-karya kita. Tanpa ada langkah awal untuk memulai, Tuhan tidak akan mampu menganugerahkan hal-hal besar dalam hidup kita; Dia butuh tangan dan kaki kita, otak kita dan ketekunan kita sebagai sarana melaksanakan karya agung-Nya bagi dunia.

Sanggupkah kita menyerahkan seluruh bakat dan talenta kita untuk semakin dikembangkan oleh Tuhan dan memberkati banyak orang di sekitar kita? Ataukah kita seperti hamba yang jahat itu, yang tidak mengenal Allah kita dengan baik, sehingga tidak mau bergerak untuk kerajaan-Nya? Ingatlah, tujuan hidup ini bukanlah hanya untuk membentuk dan memelihara keluarga dunia kita. Kita adalah bagian dari rencana yang lebih besar dari itu, bekerja untuk Kerajaan Allah, sampai nanti bila Yesus datang untuk kedua kalinya, kita didapati-Nya sedang bekerja untuk kemuliaan-Nya di bumi, dan Dia akan menganugerahkan kemuliaan di surga bagi kita.

Doa: Bapa, ingatkan aku selalu bahwa aku adalah sebagian dari rencana agung-Mu di bumi dan teguhkan aku untuk selalu ambil bagian dalam rencana ini. Amin. (HCLK)