Bersyukur Adalah Ungkapan Iman

Renungan Rabu 13 November 2019

Bacaan: Keb. 6:1-11; Mzm. 82:3-4,6-7; Luk. 17:11-19

Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Lukas 17:19)

Seusai pelajaran, murid sekolah Taman Kanak-Kanak selalu mengucapkan terima kasih kepada ibu gurunya. Kata-kata terima kasih diucapkan dengan keras sambil menoleh ke arah teman di samping kanan dan kirinya tanpa memandang gurunya. Kata terima kasih mereka ucapkan sebagai hafalan dan kewajiban tanpa mengerti maknanya.

Dikisahkan dalam Injil hari ini, sepuluh orang kusta mendapat kesembuhan dari Yesus. Anehnya, hanya seorang dari mereka yang kembali, tersungkur di kaki Yesus, bersyukur memuliakan Allah dan berterima kasih kepada-Nya. Bagi orang Samaria yang kembali itu, Yesus bermakna dalam dirinya. Ucapan terima kasih yang muncul dari orang Samaria itu adalah ungkapan iman, karena itu Yesus mengatakan imanmu telah menyelamatkan engkau.

Pesan dalam Injil tersebut memberi pelajaran moral yang berharga kepada saya. Manakah yang mirip dengan sikap saya? Kesembilan orang yang setelah disembuhkan, melupakan dan terus pergi menghilang atau satu orang yang setelah sadar dirinya tahir, memuliakan Allah dan kembali kepada Yesus untuk bersyukur dan berterima kasih? Bagi banyak orang tentu jawabannya dapat bermacam-macam menurut pengalaman hidup pribadi masing-masing. Seringkali pada kenyataannya betapa tidak mudah untuk selalu bersyukur baik waktu keadaan senang maupun dalam keadaan sedih.

Saya pernah menjadi salah satu dari kesembilan orang yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus. Ketika acara reuni keluarga besar yang lama tidak berjumpa, karena terlalu bergembira, saya bukannya bersyukur masih berkesempatan berjumpa dengan sanak saudara, justru melalaikan jam doa. Kegembiraan berlebihan menjadi penyebab melupakan Tuhan. Demikian juga ketika saya kehilangan orang yang saya kasihi, bagaimana saya dapat bersyukur? Ucapan terima kasih pun tanpa makna seperti ucapan anak-anak Taman Kanak-Kanak sekedar keluar dari bibir. Beberapa waktu lamanya saya menghilangkan jam doa saya. Namun puji Tuhan, Roh Kudus tidak membiarkan hal ini berlarut-larut. Dengan berjalannya waktu, saya disadarkan akan keberadaan diri saya yang telah menerima karunia keselamatan-Nya tanpa jasa saya sedikit pun dan terbukalah hati saya akan suatu pernyataan: bukankah setiap tarikan nafas adalah anugerah dari-Nya yang perlu disyukuri?

Doa: Tuhan Yesus, kasihanilah aku. Ajari aku untuk selalu dapat bersyukur apapun yang aku alami. Anugerahkanlah kekuatan untuk semakin serupa dengan-Mu dan pantas
memperoleh martabat sebagai pewarta keselamatan-Mu. Amin. (LKM)