Bersukacita dan Bergembiralah

Renungan Jumat 1 November 2019, Hari Raya Semua Orang Kudus

Bacaan: Why. 7:2-4,9-14Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-61Yoh. 3:1-3Mat. 5:1-12a

Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga. (Matius 5:12a)

Hari ini Tuhan Yesus mengajarkan kepada saya Sabda Bahagia dan mengingatkan saya akan Gaudete et Exsultate: Seruan Apostolik Paus Fransiskus untuk menjalani hidup kudus dalam hidup sehari-hari yang bersumber dari Sabda Yesus dalam Khotbah di bukit, yaitu Mat. 5:12.

Berkaitan dengan hidup kudus, maka Paus Fransiskus mengatakan;

Ada banyak teori tentang apa yang disebut kekudusan, dengan berbagai penjelasan dan perbedaannya. Refleksi seperti itu bisa jadi membantu, akan tetapi tidak ada yang lebih mencerahkan selain kembali kepada kata-kata Yesus dan menemukan cara Dia mengajarkan kebenaran. Yesus menjelaskan dengan sangat sederhana apakah artinya menjadi kudus saat Dia mengajarkan Sabda Bahagia (lih Mat. 5:312; Luk. 6:20-23). Sabda Bahagia seakan merupakan kartu identitas orang Kristiani. Maka kalau seseorang bertanya, “Apakah yang mesti dilakukan untuk menjadi orang Kristiani yang baik?” Jawabannya sederhana: Kita perlu menjalankan, masing-masing dengan caranya sendiri, apa yang dikatakan Yesus dalam Sabda Bahagia.[1] Dalam Sabda Bahagia tergambar wajah sang Guru. Kita dipanggil untuk menampilkannya di dalam hidup kita sehari-hari. (GeE 63)

Kata “bahagia” atau “terberkati” menjadi sebuah sinonim dari kata “kudus”, karena kata tersebut mengungkapkan bahwa mereka yang setia kepada Allah dan menghidupi sabda-Nya, dengan pemberian diri mereka, mencapai kebahagiaan sejati. (GeE 64)

Paus Fransiskus mengatakan bahwa kehidupan sehari-hari dapat memimpin saya kepada kekudusan karena setiap orang dipanggil untuk menjadi kudus. Yang perlu saya lakukan adalah menjalani hidup saya dalam kasih dan memberi kesaksian tentang Allah yang penuh kasih dalam semua (perkataan dan perbuatan) yang saya lakukan, tidak dengan tindakan yang besar dan dramatis, tetapi dengan hal-hal yang kecil dalam kehidupan sehari-hari, bahkan yang kelihatannya tanpa arti, melalui perkataan dan perbuatan yang penuh kehangatan dan kasih.

Hal itu benar-benar saya rasakan minggu yang lalu ketika saya dan dua orang sahabat pengajar diberi kesempatan untuk melayani mengajar di suatu KEP di luar pulau. Tutur kata dan perbuatan yang penuh kehangatan dan kasih, boleh kami alami melalui perjumpaan kami dengan seorang sopir sebuah bemo tua dan beberapa suster biara kongregasi SSpS – Servae Spiritus Sanctus (Misi Abdi Roh Kudus).

Di sela waktu sebelum mengajar kami boleh dipertemukan dengan seorang sopir bersama bemo tuanya yang bersedia kami sewa untuk mengantar kami mengunjungi beberapa paroki, rumah retret dan tempat ziarah – Gua Maria yang terdekat dengan paroki Katedral tempat kami mengajar.

Ketika berada di Gua Maria, ada dorongan kuat dalam diri kami untuk melakukan tindakan kecil sederhana. Kami mengajak sopir bemo itu berfoto bersama, juga memberi kesempatan kepadanya berfoto sendiri. Sopir bemo itu sangat bersukacita. Kegembiraan dan kebahagiaan muncul di wajahnya. Sepanjang perjalanan pulang dari Gua Maria, dia mengungkap perasaan bahagianya. Dengan tulus, ia mengatakan, “Saya senang sekali hari ini. Hati saya benar-benar bahagia.” Dia ingin foto-fotonya dicetak untuk disimpan (karena dia hanya punya handphone lama). Dengan sedikit merengek, dia meminta kami untuk bisa lebih lama tinggal di kota ini.  Sopir bemo itu merasa bahagia. Ia merasakan diperlakukan sebagai bagian dari anggota keluarga kami. Ia merasa dirinya sangat diperhatikan, dicintai, dihargai dan dikasihi.

Selain bersama sopir bemo, sukacita dan kegembiraan yang meluap luap boleh kami alami ketika kami sejenak bersama para suster novis di biara SSpS – Servae Spiritus Sanctus (Misi Abdi Roh Kudus).

Kebersamaan kami dengan mereka diawali dengan perjumpaan kami dengan dua orang suster SSpS yang sedang berjalan membawa jerigen air sewaktu kami bersama bemo tua dan sopirnya sedang dalam perjalanan ke rumah Retret Bunda Maria Karmel.  Ketika kami bertanya mereka hendak menuju ke mana, mereka mengatakan hendak mengambil air bersih di tandon air karena selama tiga minggu pasokan air bersih ke biara terhenti. Kemudian kami tergerak untuk mengajak mereka naik bemo tua yang kami sewa menuju ke tandon air bersih dan berjanji akan membantu mengangkut mereka dan jerigen air dari tandon air kembali ke biara.

Singkat kata, setelah pulang dari rumah Retret Bunda Maria Karmel, kami menuju ke tandon air menjemput suster SSps untuk mengangkut jerigen berisi penuh air ke biara. Ternyata ada sekitar enam orang suster yang sedang menunggu kedatangan kami bersama sekitar 20 jerigen air. Akhirnya kami mengangkut semuanya dengan mobil bemo tua itu menuju ke biara.

Ketika kami sampai di biara, kami disambut lebih banyak suster dan suster pimpinan biara. Kami diajak singgah sejenak dan diminta tidak buru buru meninggalkan biara. Tiba-tiba muncul dorongan yang sangat kuat untuk sebuah tindakan kecil dari seorang sahabat pengajar untuk membuat foto dan video kenangan kami bersama mereka.

Dari dorongan itu, rahmat sukacita dan kegembiraan mulai mengalir dengan luar biasa di dalam kebersamaan sejenak antara kami dengan para suster biara. Mereka penuh sukacita, bergembira berfoto dengan bermacam-macam gaya bersama kami. Ketika kami membuat video, mereka mengungkapkan kegembiraan penuh sukacita dengan bergoyang menyanyikan lagu pujian-pujian kepada Tuhan bersama kami.

Saat kami pamit akan meninggalkan biara, mereka memberikan kasih, berkat, sukacita kepada kami melalui lagu Bunda Maria dalam Bahasa Manggarai dan satu lagu perpisahan dalam Bahasa Inggris, yang membuat hati kami bercampur aduk, penuh sukacita, penuh kegembiraan, penuh kebahagiaan, sekaligus terharu.

Kami benar-benar terharu. Hati kami merasakan ketika kami bersedia mengikuti dorongan hati untuk melakukan perkara kecil, berbagi kasih, sukacita, kebahagiaan dengan para suster, dengan membantu mereka mengangkut jerigen-jerigen air, Tuhan Yesus memberikan balasan yang luar biasa dengan memberikan sukacita kegembiraan yang lebih besar, yang tidak pernah kami pikirkan di hati kami semua. Kami juga merasakan sukacita luar biasa melalui lagu pujian syukur yang mereka nyanyikan dengan sepenuh hati serta melalui wajah para suster yang penuh sukacita kegembiraan, kebahagiaan karena mereka mereka merasa diperhatikan, dibantu, dihargai, dicintai.

Hari itu kami semua pulang dari biara, bersiap untuk mengajar KEP di paroki katedral, dengan hati yang penuh sukacita dan bahagia.

Tuhan Yesus, saya mengucapkan syukur dan terima kasih kepada-Mu karena hari ini firman-Mu telah mengajarkan hatiku untuk melakukan kekudusan melalui hal-hal yang kecil dalam kehidupan sehari hari, bahkan yang kelihatannya tak berarti, melalui perkataan dan perbuatan yang penuh kehangatan dan kasih. Bimbing dan ajar terus diriku ya Tuhan, agar saya dapat membagikan kasih, berkat dan sukacita kepada kepada banyak orang yang kami jumpai, agar hati mereka pun dapat bersukacita, bergembira, berbahagia karena mereka merasakan dirinya sangat diperhatikan, dicintai, dihargai dan dikasihi. Amin.

Tuhan memberkati.

Set