Siapakah Sesamaku?

Renungan Selasa 7 Oktober 2019, Peringatan Wajib Santa Perawan Maria, Ratu Rosario

Bacaan: Yun. 1:1-17; 2:10; MT Yun. 2:2,3,4,5,8Luk. 10:25-37

Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” (Luk. 10:29)

Ayat ini menggelitik saya seolah-olah saya pribadi ditanya, “Dan siapakah sesamaku manusia?” dan saya salah dalam menjawabnya di mana seolah olah tidak mengenal siapakah sesama saya. Sewajarnya saya mengetahui siapa sesama saya. Tetapi andaikata saya diulang ditanya Yesus siapakah sesama saya itu, maka saya akan menjawab seperti kebanyakan orang bahwa sesama saya adalah teman-teman saya, sahabat saya atau keluarga saya. Kita cenderung menyebutkan orang-orang yang dekat sebagai sesama. Sebagai manusia sering di bawah sadar memilih siapa yang kita sukai, siapa yang segolongan dengan kita. Tetapi kalau dengan orang yang tidak kita sukai atau tidak kenal kita pasti cenderung mengabaikan kehadiran mereka.

Contoh dalam bacaan pertama hari ini, di mana Yunus diminta Allah untuk ke Niniwe tetapi Yunus menolak. Karena Yunus adalah orang Israel yang bermusuhan dengan bangsa Asyur. Yunus menolak untuk membuat orang-orang Niniwe diselamatkan. Yunus malah melarikan diri ke Tarsis. Melalui kisah Yunus ini kita melihat seorang nabi pun sangat sulit untuk melaksanakan tugas dari Allah untuk menyelamatkan musuhnya dari rencana murka Allah.

Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu, ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu, ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. (Luk. 10:31-32)

Kita sering mendengar tentang tujuh dosa yang mematikan atau yang sebagian besar tertulis dengan kata awal “jangan” dalam Sepuluh Perintah Allah. Kita mungkin sebagai umat Kristiani yang taat, tidak pernah berselingkuh, tidak pernah membunuh, tidak pernah mencuri atau bahkan tidak pernah berbohong. Tetapi kadang kita masih sering melakukan seperti imam dan orang Lewi yaitu menghindar kalau melihat seseorang yang menderita. Kita kadang tahu kesulitan rekan sekerja kita, kita tahu kesulitan keuangan yang dihadapi teman kita, kita tahu anak kita mungkin sedang mengalami putus cinta, apakah kita seperti orang Lewi dan imam itu? Kita tidak berani menolong, kita hanya lewat saja dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan tidak berbuat sesuatu. Tanpa sadar kita pun terjebak dalam dosa karena mengabaikan sesama kita.

Tetapi kadang kita merasa apakah kita mampu membantu orang lain, kalau melihat kita sendiri dalam kondisi yang kurang baik. Apakah kita bisa membantu orang yang sedang kesulitan? Membantu kadang tidak hanya dalam bentuk materi. Kita bisa membantu orang lain dalam bentuk dukungan moril atau kehadiran kita. Kalau anak sedang patah hati, maka kehadiran dan penghiburan kita adalah hal yang sangat diperlukan. Seseorang yang sedang dalam kesulitan ekonomi, bisa kita bantu dengan memberi pengharapan supaya menemukan jalan keluar. Orang yang sedang dalam kesulitan bisa terbantu dengan hanya melihat atau mendengar dari  sudut pandang yang berbeda dari suatu masalah.

Marilah kita berdoa: Ya Bapa yang Maha Pengasih dan Penyayang, kami anak-anak-Mu terkadang sering melarikan diri dari tugas-Mu. Kami sering seperti Yunus yang menghindar dari tugas yang Kau berikan, kami sering sulit juga untuk memaafkan dan juga kami sering mengabaikan ketika kami melihat sesama kami sedang dalam kesulitan. Ajarlah kami untuk berani bersaksi bahwa Engkau sungguh baik di mana Engkau akhirnya dengan kasih-Mu mau membatalkan hukuman kepada orang Niniwe, Ajarlah kami untuk bersedia memberikan waktu kepada orang yang membutuhkan pelayanan kami, Ajarlah kami agar berani berbagi kepada orang lain yang membutuhkan seperti orang Samaria. Semua doa ini kami haturkan agar semakin banyak orang merasakan kasih-Mu yang luar biasa. Dengan pengantaraan Yesus, Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin. (AlX)