Milik Tuhan

Renungan Jumat 18 Oktober 2019, Pesta St. Lukas

Bacaan: 2Tim. 4:10-17bMzm. 145:10-11,12-13ab,17-18Luk. 10:1-9

Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. (Lukas 10:2)

Firman Tuhan hari ini mengingatkan saya pada dorongan dan anjuran teman lingkungan yang sekaligus menjadi ibu pembimbing rohani saya, yaitu mendiang Ibu Irene Subroto, untuk mengikuti Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) di Paroki Santo Yakobus – Citraland Surabaya di tahun 2015.

Saat itu beliau mengatakan bahwa gereja membutuhkan generasi muda yang mau belajar lebih lagi mengenal kasih Tuhan Yesus untuk kemudian bisa menjadi pekerja-pekerja yang melayani Tuhan dan sesama.

Jujur saat itu saya tidak merasa antusias untuk menanggapi anjuran beliau, hal ini dikarenakan ketidakmengertian akan panggilan khusus bagi saya sebagai seorang Krsitiani. Walaupun demikian, pada akhirnya saya memutuskan untuk ikut KEP. Melalui pengajaran KEP, Tuhan berbicara banyak kepada saya, sehingga pemikiran saya pun diubah dan diperbarui, sampai pada akhirnya saya dibawa pada kesadaran bahwa ternyata Tuhan mempunyai misi bagi saya yaitu menjadi pekerja-Nya yang siap diutus untuk memperluas kerajaan-Nya.

Mulai dari dua belas murid, Tuhan Yesus kemudian menunjuk tujuh puluh murid lainnya untuk diutus pergi mendahului-Nya ke kota dan tempat yang akan Ia kunjungi (Lukas 10:1).

Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak , tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. (Lukas 10:2)

Baik tuaian maupun pekerja-pekerja semuanya adalah milik Tuhan, begitu banyak kesaksian yang saya dengar mengenai panggilan perutusan ini; bahwa dengan berbagai cara Tuhan memanggil kita pribadi lepas pribadi untuk menjadi pekerja-Nya. Entah kita siap atau tidak siap, apakah kita terbuka pada panggilan ataupun tidak, bahkan sikap yang tidak antusias dan sikap menolak pun tidak mengurangi kasih dan rahmat Tuhan untuk mempercayakan warta sukacita kepada kita untuk dibagikan kepada semua orang yang kita jumpai.

Kita semua diutus bukan karena kuat dan hebat kita, untuk itu Yesus berkata:

Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. (Lukas 10:3)

Ia yang akan menyertai dan memperlengkapi kita di dalam setiap perjalanan iman kita dalam mewarta. Saat warta sukacita diterima maka pewartaan kita membuahkan kebaikan. Untuk konsekuensi penolakan, Yesus memberikan petunjuk bagi kita untuk meninggalkan tempat itu dan tidak larut dalam kekecewaan, untuk kemudian terus melanjutkan perjalanan karena warta Kerajaan Allah dan sukacita Injil harus disampaikan kepada semua orang sampai kepada ujung bumi.

Marilah kita senantiasa mempunyai kesediaan dan ketulusan hati dalam menjalankan misi pewartaan kita dengan mengandalkan kasih dan perlindungan dari Tuhan kita sang pemilik ladang tuaian.

Doa: Allah yang penuh kasih, beri kami kekuatan untuk terus melangkah dalam menghadapi setiap tantangan di dalam tugas perutusan yang Engkau percayakan kepada kami. Ingatkan kami untuk terus mengandalkan Engkau dalam setiap proses yang kami jalani, tetap taat dan setia sampai pada akhirnya. Amin. (VYS)