Domba

Renungan Kamis 3 Oktober 2019

Bacaan: Neh. 8:1- 4a,5-6,7b-12Mzm. 19:8,9,10,11Luk. 10:1-12

“Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.” (Luk. 10:3)

Mungkin dalam kategori binatang memamah biak, domba menempati urutan akhir alias paling lemah. Namun di dalam kelemahan tersebut, domba mempunyai manfaat yang besar mulai dari kulit, susu, bulu, sampai daging, bagi umat manusia.

Domba yang lemah namun penurut sering menjadi kiasan dalam menjelaskan bagaimana umat-umat Tuhan harus bersikap. Ketika Yesus memberikan amanat agung pada para murid untuk hidup di tengah masyarakat dan mengabarkan berita sukacita akan keselamatan di dalam diri-Nya, berarti umat Tuhan hidup dan diutus di dunia ini bukan untuk menghadapi sesuatu yang mudah menyenangkan, namun sudah terbayang di depan mata bahwa kita akan menghadapi suatu bahaya yang sangat besar yaitu dimangsa oleh para serigala yang ganas ketika lalai, ketika tidak berada dalam pengawasan, ketika berjalan sendirian, ketika tersesat dan lain sebagainya.

Sebagai domba yang lemah, kita tidak punya kekuatan dalam menjalani kehidupan ini, sehingga pada hakekatnya dalam setiap langkah, kita menyerahkan hidup sepenuhnya pada tuntunan dan pimpinan Tuhan sebagai sang gembala seperti dikatakan dalam Rm 8:31, karena jika Tuhan di pihak kita, jika Tuhan yang memimpin langkah kita, jika Tuhan yang mengawasi kita, jika Tuhan yang memelihara hidup kita, siapakah yang akan melawan kita?

Dua sisi ibarat ini patut diperhatikan. Bahaya memang disebut, tetapi ditegaskan pula ada perlindungan meskipun tidak selalu tampak. Yang perlu dilakukan para murid hanya percaya kepada-Nya, seperti pada ayat selanjutnya yang dikatakan untuk tidak membawa pundi, bekal ataupun kasut, yang artinya kita (murid) hanya bersandar kepada kekuatan Allah saja.

Saat ini dalam hedonisme dunia, banyak sekali tawaran memikat yang bisa membawa saya untuk menunjukkan eksistensi diri dengan segala kemampuan dan talenta. Namun saya bersyukur oleh kasih karunia Tuhan yang selalu mengingatkan untuk menanggalkan segala kebanggaan serta menjauhi ke-aku-an; dan sebaliknya, beralih untuk berproses dengan terus bersandar pada-Nya, sehingga perihal ‘murid’ semakin hari benar-benar dapat saya rasakan dan nikmati yaitu dengan kuasa-Nya yang menjadi sempurna dalam hidup melalui campur tangan Roh Kudus yang menolong di dalam kelemahan saya. (2Kor. 12:9, Rm. 8:26).

Marilah berdoa:

Bapa, ampuni kami karena sering meragukan Engkau hingga kami berjalan dengan pundi-pundi, bekal dan kasut kami sendiri di tengah kawanan serigala. Saat ini dengan pertolongan Roh Kudus, mampukan kami percaya bahwa di balik domba yang lemah, ada kuasa-Mu yang ajaib dan siap menolong kami. Demi Yesus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.

amdg, vmg.