Biji Sesawi

Renungan Selasa 29 Oktober 2019

Bacaan: Rm. 8:18-25Mzm. 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6Luk. 13:18-21

Maka kata Yesus: “Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya.” (Luk. 13:18-19)

Kerajaan Allah laksana biji sesawi yang tumbuh menjadi pohon besar, dan menjadi tempat bersarangnya burung-burung. Kerajaan Allah juga laksana ragi yang dapat mengkhamirkan seluruh tepung dalam adonan, kecil tapi mempunyai efek yang besar. Demikian ajaran Yesus tentang Kerajaan Allah.

Demikian kehidupan, kita juga diminta menjadi seperti ragi, hidup yang berguna dan memengaruhi sesama untuk melakukan perbuatan-perbuatan nyata sehari-hari dalam rupa perbuatan-perbuatan baik, benar dan sehat.

Seperti halnya biji sesawi, kehidupan juga merupakan suatu proses yaitu proses perjalanan menuju  Kerajaan Allah yang lamanya kita tidak tahu. Biji sesawi dalam kehidupan, adalah benih-benih firman Allah yang ditaburkan dalam hati sanubari kita, yang harus dipelihara, dan ditumbuhkembangkan selalu.

Kita sering memahami, dengan membaca firman saja, berdoa, beribadah, memuji-muji Tuhan, ikut kegiatan rohani, pelayanan rohani ke mana-mana dll., dan mengira itu sudah cukup untuk mengantar ke dalam Kerajaan Allah.

Firman Allah yang kita baca, kita dengar tidak bisa bertumbuh baik dengan cara instan seperti di atas. Tetapi perlu dikecap, dikunyah, dicerna, diresapi dan dipraktikkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari secara nyata. Biji sesawi yang tumbuh menjadi pohon yang beranting dan menjadi tempat bersarang burung-burung, demikian juga dengan firman Allah yang ditabur dalam hati sanubari, dia juga harus menjadi pohon kehidupan dan berbuah lebat yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia, makhluk-makhluk hidup lainnya dan alam semesta.

Yesus berkata, hal itu bagi manusia tidaklah mudah, seumpama kita melewati jalan panjang yang sempit, pintu yang juga sempit dan sesak, dan itu semua adalah proses yang membutuhkan penyadaran diri, tekad dan kesungguh-sungguhan dan perjuangan yang berat.

Berat dan sulit, tetapi seperti kata Paulus, di dalam pengharapan kita akan dimerdekakan dari perbudakan dan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.

Perjuangan menuju Kerajaan Allah, bagaikan orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan sorak sorai.

Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya. (Mzm. 126:5-6).

Salam dan doaku.

FXST