Bekerja Sama Dengan Allah

Renungan Minggu 13 Oktober 2019, Hari Minggu Biasa XXVIII

Bacaan: Raj. 5:14-17Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-42Tim. 2:8-13Luk. 17:11-19

Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini? (Luk. 11:18)

Pertanyaan Yesus ini merupakan suatu hal yang patut direnungkan bahwa ternyata hanya satu orang yang kembali untuk mengucapkan syukur dan orang tersebut adalah orang Samaria yang dianggap sebagai bangsa yang tidak murni, sesat, kafir dan tersingkirkan. Ironisnya sembilan orang lain yang tidak kembali untuk mengungkapkan syukur adalah bangsa Israel yang dianggap bangsa yang bermartabat, saleh, murni, pilihan Allah namun tidak mau berupaya atau mungkin lupa mengucapkan syukur atas anugerah kesembuhan yang diterimanya.

Bukankah kondisi ini mencerminkan realita kondisi kita saat ini. Kita seringkali merasa sebagai umat yang terpilih, umat yang diberkati anugerah keselamatan dari Allah yang diberikan melalui Putra-Nya namun seringkali kita tidak mengucap syukur atas anugerah keselamatan yang diberikan. Atau kalau kita mengucap syukur, ucapan syukur kita tidak tulus, asal asalan atau sambil lalu begitu saja.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan ketidakmampuan kita untuk mengucap syukur atas anugerah yang kita terima.

Yang pertama karena kita merasa bahwa anugerah itu adalah hak kita yang sewajarnya, kita dapatkan karena kita sudah melakukan sesuatu kebaikan atau sesuatu yang dikehendaki Allah, bahkan seringkali  kita merasa kita sudah turut serta memuliakan Allah. Hal ini perlu diluruskan kembali bahwa Allah adalah Yang Maha Sempurna sejak semula sehingga apa yang kita perbuat dan lakukan tidak akan menambah setitik saja kemuliaan-Nya, dengan demikian kita tidak berhak merasa berjasa dan tidak berhak menerima upah apapun, sehingga  keselamatan yang kita terima adalah semata-mata karena belas kasih Allah pada kita yang seharusnya kita tanggapi dengan rasa syukur yang mendalam.

Penyebab lain adalah karena kita sudah tidak bisa merasakan lagi bahwa segala kebaikan yang tampak  kecil dan sepele  adalah hakekatnya sama dengan mukjizat dari Tuhan yaitu, sama-sama merupakan anugerah Allah. Kita sudah mati rasa, kebas batin, menganggap kalau kita bisa menghirup udara dengan bebas, kita bisa mendapat makanan, kita masih mempunyai rumah untuk berlindung, karena memang sudah berhak mendapatkan hal-hal baik tersebut. Tidak sekalipun kita merasakan bahwa semua yang kita nikmati semata-mata hanya karena anugerah Allah. Ketika kita berada dalam penderitaan pun seperti sakit, tekanan ekonomi atau masalah lain yang menghimpit, kita serta merta merasakan bahwa kita sedang sial, kita lupa bahkan penderitaan adalah suatu anugerah dari Tuhan yang seyogyanya kita pandang sebagai sarana memimpin seseorang kepada pertobatan, kesembuhan iman yaitu untuk membangun kembali kebaikan di dalam diri orang yang mengalami penderitaan.

Pada akhir perikop Yesus menyatakan suatu hal kepada seorang Samaria yang mau bersyukur, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Perikop ini menyadarkan kita bahwa kesembuhan saja ternyata bukan suatu akhir, kita masih perlu berjuang mencapai keselamatan. Nah, ini mengingatkan bahwa Allah mempunyai dua kehendak, yang pertama adalah kehendak Allah yang mendahului dan kehendak Allah yang mengikuti. Kita tidak meragukan lagi kehendak Allah yang mendahului, yaitu kehendak awal dari kerinduan Allah untuk menyelamatkan manusia dan menganugerahkan Putera-Nya Yang Tunggal. Namun ketika kehendak bebas manusia tidak menanggapi tawaran keselamatan dengan tepat maka kehendak Allah yang mendahului akan tergantikan dengan kehendak Allah yang mengikuti yaitu, suatu kehendak Allah yang pasti yang final yaitu yang mengizinkan sejumlah manusia untuk dihukum agar keadilan Allah bisa ditegakkan.

Jadi marilah kita bekerja sama dengan Allah, mewujudkan rencana awal-Nya yang indah sehingga kelak kita benar-benar meraih keselamatan yang telah disediakan.

Marilah berdoa: Kami mohon pengampunan atas sikap kami yang seringkali  mengecewakan-Mu dengan kesombongan hati kami, merasa bahwa kami memang layak dan pantas untuk memperoleh keselamatan.

Bukalah hati kami sehingga kami dapat menyadari bahwa rahmat penebusan yang Kau berikan pada kami adalah semata-mata karena belas kasihan-Mu dan akhirnya teguhkanlah hati kami sehingga kami mampu menerima anugerah-Mu baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan dengan penuh rasa syukur, karena kami menyadari bahwa semua hal tersebut adalah bagian dari rencana keselamatan yang Kau sediakan bagi kami. Amin. (LSL)