Terkecil Tapi Terbesar

Renungan Senin 30 September 2019

Bacaan: Za. 8:1-8; Mzm. 102:16-18,19-21,29,22-23; Luk. 9:46-50

Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.(Luk. 9:48)

Seringkali kita menganggap diri lebih pintar dari adik kita, kita yang lebih tua merasa lebih tahu, lebih besar, atau kadang lebih hebat. Padahal sebenarnya keadaannya tidak selalu seperti itu, bisa jadi adik kita lebih pintar dari kita karena dia lebih rajin belajar atau adik kita jauh lebih dewasa dalam bersikap dibanding kita sendiri yang lebih tua.

Itulah manusia, seringkali merasa diri lebih, lebih, dan lebih dalam segala hal dibanding sesamanya yang lebih kecil atau lebih muda. Siapakah yang terbesar menurut Yesus? Dia yang mau menjadi seperti seorang anak kecil, memiliki kerendahan hati dan kepolosan seperti seorang anak kecil. Dia yang mempercayakan diri sepenuhnya kepada Tuhan.

Janganlah merasa diri selalu lebih. Pandanglah orang lain dengan kerendahan hati, sehingga kita bisa lebih menghargai mereka. Yesus pun dengan segala kerendahan hatinya disalibkan untuk kita. Maka setiap pengikut-Nya harus berani melupakan jasa yang sudah mereka perbuat, menanggalkan keangkuhan yang telah mereka lakukan, serta melenyapkan ambisi pribadi yang negatif atau keinginan yang tidak teratur untuk mencari popularitas dengan motivasi yang tidak sehat.

Yesus mengajak kita bersikap lebih rendah hati dan siap melayani Tuhan dan sesama. Tidak menonjolkan dirinya, tidak menuntut pengakuan dari orang lain, tidak menebar pesonanya kepada orang lain, apalagi mencoba mengalahkan orang lain dengan kekuatan fisiknya.

Dengan sikap dan perilaku macam ini, kita sesungguhnya berada di pihak-Nya dan terhitung dalam bilangan orang-orang besar yang memiliki semangat pelayanan dan dedikasi yang tinggi. (LFT)