Pelayan Yang Tak Bercacat

Renungan Selasa 17 September 2019

Bacaan: 1Tim. 3:1-13Mzm. 101:1-2ab,2cd-3ab,5,6Luk. 7:11-17

Mereka juga harus diuji dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata mereka tak bercacat. (1Tim. 3:10)

Sahabat terkasih, kita semua dipanggil untuk melayani sesama sebab Tuhan bersemayam dalam hati orang yang kita layani. Setelah lulus OIKOS (jenjang dalam kelas evangelisasi di SEP Surabaya, red.) maka kita sungguh-sungguh siap untuk diutus melayani. Setelah kita diutus dan pergi melayani, maka kita akan diuji, apakah kita sungguh telah menyenangkan hati Tuhan.

Kadang-kadang setelah terjun dalam pelayanan kita merasakan sukacita dan kebahagiaan tersendiri meskipun amat melelahkan sampai akhirnya jatuh sakit. Lalu kita mulai mendapat pujian karena dinilai “berhasil” baik oleh orang lain atau oleh ukuran diri sendiri. Sehingga kita makin bersemangat untuk melayani. Sebaliknya kita bisa mendapat kritikan karena kurang di sini kurang di situ. Maka baik pujian maupun kritikan merupakan ujian apakah kita terus dapat melayani dengan leluasa.

Tantangan paling besar adalah apabila pelayan Tuhan jatuh dalam kesombongan rohani. Perlahan dia merasa dirinya hebat, merasa orang lain tak mampu melakukan seperti yang dia lakukan. Tantangan lain adalah apabila pelayan Tuhan mulai melayani hanya di bibir saja, atau menggunakan topeng pelayanan, sedangkan di rumah atau karakter aslinya kembali kepada manusia lama.

Suatu hari saya terkejut dengan kata-kata saya sendiri, saya disadarkan oleh Roh Kudus bahwa saya baru saja menghakimi orang yang pernah berbuat tidak benar pada saya. Saya merasa senang saat orang tersebut terkena musibah. Padahal saya sering mengajarkan tentang iri hati. Bahwa Iri hati ada dua macam, yaitu susah melihat orang lain senang dan yang kedua yang paling jahat adalah senang melihat orang susah. Ternyata saya masuk perangkap sendiri. Iblis dan kedagingan telah menjerat saya. Puji Tuhan Roh Kudus ingatkan dan sadarkan saya untuk segera bertobat, jangan kembali pada manusia lama yang mudah iri hati.

Dalam 1Tim. 3:1-13 Tuhan menetapkan standar mutu pelayan Tuhan seperti apa, yaitu yang tak bercacat berarti dia haruslah sempurna, dapat menguasai diri, bijaksana, sopan, murah hati, cakap mengajar orang lain, bukan orang yang suka hura-hura, bukan yang hamba uang, bukan yang suka menggosip tapi justru suka mendamaikan orang yang berseteru. Di dalam keluarga, dia adalah orang yang bisa mengayomi anggota keluarganya, bukan orang yang suka menghukum atau semena-mena. Dia harus punya nama baik, semua orang hormat dan segan padanya karena kebaikan hatinya yang tulus, tidak ada kemunafikan, tidak haus kuasa, hormat dan pujian, tidak ada kepalsuan, semuanya murni, jujur, tulus dan apa adanya, dia tidak menggunakan topeng pelayanan.

Dan yang terutama kita mau mencontoh seperti Tuhan Yesus melayani dengan hati yang senantiasa digerakkan oleh belas kasihan. Seperti dalam Lukas 7:11-17 Yesus tergerak oleh belas kasihan melihat penderitaan seorang janda yang ditinggal mati oleh anaknya yang satu-satunya.

Sahabat terkasih apakah kita mau diuji dan menguji diri sendiri untuk mencapai standar mutu pelayan Tuhan yaitu pelayan yang tak bercacat di mata Tuhan?

Doa: Ya Roh Kudus bimbing dan ajari kami menjadi pelayan yang tak bercacat sehingga kami dapat bersaksi dengan leluasa dan pada akhirnya kami layak menerima upah di Surga. Amin.

Tuhan memberkati

-ppt-