Memaknai Salib

Renungan Sabtu 14 September 2019, Pesta Salib Suci

Bacaan: Bil. 21:4-9Mzm. 78:1-2,34-35,36-37,38Flp. 2:6-11Yoh. 3:13-17

Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. (Yoh. 3:14-15)

Hari ini kita merayakan Pesta Salib Suci. Pesta ini merupakan ungkapan iman gereja terhadap salib Yesus sebagai jalan keselamatan. Dahulu, dalam masyarakat Yahudi, penyaliban adalah salah satu bentuk hukuman bagi yang berbuat pelanggaran dan kesalahan yang sangat besar. Bentuk hukuman ini sudah ada sebelum Yesus lahir, tetapi mendapat makna sejak Yesus menjalani hukuman itu. Salib bagi Yesus bukan sebagai hukuman, tetapi mempunyai makna baru yang dibawa-Nya:

Pertama, salib adalah tanda betapa besarnya kasih Allah kepada manusia, sehingga Ia menganugerahkan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). Dengan demikian salib Yesus mengingatkan kita akan kebesaran dan keagungan kasih Allah kepada manusia.

Kedua, salib menjadi tanda kemenangan Yesus atas dosa. Salib adalah kenangan akan pengorbanan Yesus yang dengan merendahkan diri taat pada Bapa demi keselamatan kita. Karena kasih-Nya, dengan salib Yesus telah memulihkan kembali hubungan kita dengan Allah yang terputus karena dosa.

Ketiga, setiap kali kita membuat tanda salib, hal itu menunjukkan akan kehadiran Allah Tritungal, Bapa, Putra dan Roh Kudus dalam hidup kita. Terlebih salib mengingatkan akan Allah yang mau menyertai perjuangan kita mematahkan belenggu dosa menuju keselamatan dan kehidupan kekal. 

Bagi saya, salib menjadi kekuatan dan dasar dari segala perbuatan yang nampaknya sia-sia, tetapi menghasilkan buah pada waktunya.

Dahulu, saya memasang salib di ruang tamu rumah. Salib ini cukup menarik perhatian setiap tamu yang datang untuk melirik salib tersebut. Sepintas hal ini tentu menggambarkan suatu kehidupan rohani keluarga yang terjaga. Tetapi kenyataannya berbicara lain. Sejak berumah tangga, dengan berbagai alasan, kami semakin jarang pergi ke gereja, semua kegiatan rohani mulai kami tinggalkan. Dengan berjalannya waktu bahkan pernah muncul kebimbangan ketika tantangan meninggalkan Yesus makin menggoda. Tetapi Tuhan maha baik. Tidak dibiarkan-Nya keluarga kami terseret ombak kehidupan duniawi. Melalui berbagai masalah, dikembalikan-Nya keluarga kami pada jalan ketaatan dan setia pada Yesus, serta makin diteguhkan-Nya dengan bergabungnya kami pada komunitas Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP). Di ruang tamu kami masih terpasang salib yang sama. Salib itu sekarang bukan lagi sekedar aksesoris belaka, tetapi mempunyai daya kekuatan untuk menapaki sisa kehidupan ini dalam melayani Tuhan dan sesama.

Doa: Terima kasih Tuhan Yesus, dengan wafat-Mu di kayu salib, Engkau telah menyelamatkan keluargaku. Aku percaya Engkau telah mengampuni segala dosaku dan kehidupan baru telah Engkau anugerahkan kepadaku. Ajari aku Tuhan, untuk memaknai salib hidupku setiap hari dan beri aku kekuatan memanggul salibku demi mewujudkan kasih-Mu kepada sesamaku. Amin. (LKM)