Masih Adakah Cinta?

Renungan Kamis 19 September 2019

Bacaan: 1Tim. 4:12-16Mzm. 111:7-8,9,10Luk. 7:36-50

Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. (Luk. 7:38)

Dalam injil hari ini, Yesus membandingkan orang Farisi (Simon) yang kaya dengan perempuan pendosa yang terkenal dengan reputasinya yang buruk. Kemudian kita juga dapat melihat perbedaan kedua orang ini dalam hal penyambutannya terhadap Yesus.

Sebagaimana adat Yahudi, ada tata cara yang semestinya dilakukan kepada tamu yang datang. Tetapi Simon seorang Farisi tidak melakukan adat kebiasaan itu, padahal dia yang mengundang Yesus datang ke rumahnya. Berbeda dengan perempuan berdosa itu, bisa dikatakan kedatangannya adalah sebagai tamu yang tidak diundang. Namun demikian, sikapnya untuk datang menemui Tuhan Yesus dibuatnya melebihi adat kebiasaan Yahudi.

Dapat kita bayangkan situasi pesta yang diselenggarakan oleh seorang yang bernama Simon dalam injil ini. Tentu ini bukanlah pesta biasa, tetapi pesta istimewa. Maklum, Simon adalah seorang sosok yang dihormati di lingkungan sosial masyarakatnya. Tentu yang diundangnya juga adalah para orang terpandang setingkat pejabat. Orang-orang dari kalangan terhormat. Yesus pun rupanya diundang juga ke perjamuan tersebut. Namun di tengah suasana pesta yang mulia dan terhormat, terjadi suatu peristiwa yang sebenarnya tidak diharapkan. Tamu tak diundang datang ke tengah pesta, merusak pemandangan. Ya, karena yang datang adalah seorang perempuan hina, bahkan diberi embel-embel sebagai “pelacur” kelas kakap.

Lukas tidak menyebutkan siapa nama perempuan tersebut, dia hanya menyebutkan bahwa perempuan itu adalah orang berdosa yang sangat ‘terkenal’, artinya memiliki reputasi yang sangat buruk, semua orang di kota itu mengenalnya. Dalam ayat ini menggambarkan wujud penghormatan yang luar bisa yang ditunjukkan oleh perempuan berdosa itu terhadap Tuhan Yesus, suatu tindakan yang tidak lazim di budaya Yahudi pada zaman itu, membasuh kaki dengan air mata, menyekanya dengan rambut, mencium kaki Yesus dan meminyaki dengan minyak wangi. Perempuan itu datang kepada Yesus dengan totalitas dan penuh kerendahan hati. Mendengar bahwa Yesus sedang berada di rumah orang Farisi itu, perempuan berdosa itu pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Segera ia datang kepada Yesus dengan membawa sebuah buli-buli pualam yang berisikan minyak wangi yang harganya mahal; di mana hal ini berarti ia datang kepada Yesus dengan membawa persembahan terbaik yang ia miliki tanpa mempedulikan cibiran atau cemoohan orang lain terhadap dirinya. Tekadnya hanya satu yaitu bertemu dengan Yesus.

Simon tidak memberikan air untuk membasuh kaki Yesus, tetapi perempuan berdosa itu membasahi kaki Yesus dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya.

Simon tidak mencium Yesus, tetapi perempuan berdosa itu terus mencium kaki Yesus

Simon tidak meminyaki kepala Yesus, tetapi perempuan berdosa itu meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi.

Untuk menyembah Yesus, perempuan ini rela dianggap sebagai seorang wanita yang tidak sopan, bahkan mungkin tidak bermoral. Namun iman dan pengabdiannya kepada Tuhan merupakan teladan tertinggi dari apa yang diinginkan Allah dari orang yang percaya.

Luar biasa, seorang perempuan yang dianggap hina, namun pertobatannya bukan sekedar kata-kata doa permohonan ampun semata. Imannya tidak sekedar teori saja, tapi mempersembahkan, bahkan mempertaruhkan yang terbaik dari seluruh hidupnya.

Bagaimana dengan kita? Masih adakah cinta kita untuk Yesus?

Doa: Tuhan, jauhkanlah aku dari rasa sombong dan menganggap diriku sempurna, lebih baik, lebih suci karena aku sudah melayani Engkau. Semoga dengan kerendahan hati membuat aku semakin dekat dengan-Mu dan mampu mewartakan injil-Mu , agar mereka yang jauh dari-Mu datang dan percaya kepada-Mu. Amin.(SWK)