Disembuhkan Untuk Melayani

Renungan Rabu 4 September 2019

Bacaan: Kol. 1:1-8Mzm. 52:10,11Luk. 4:38-44

Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” (Luk. 4:43)

Bertugas di Penitipan Anak Paroki merupakan waktu yang berat bagi saya, karena saya tidak telaten dan sulit berkomunikasi dengan anak-anak. Setiap tiba giliran saya bertugas, saya selalu mencari pengganti dengan berbagai macam alasan.

Suatu ketika saya tidak dapat pengganti dan sempat terpikir saya tidak akan datang bertugas, tetapi hati nurani saya bergejolak akhirnya saya berangkat melakukan tugas Penitipan Anak Paroki meski dengan berat hati. Setibanya di sana ternyata anak-anak sudah menunggu dengan bersemangat dan penuh kegembiraan. Melihat suasana ini saya terharu sampai hampir menangis, begitu malaikat-malaikat  kecil ini lugu, tulus dan menantikan saya untuk memberikan sesuatu tentang Tuhan Yesus, bernyanyi dan bermain dengan mereka. Saya sangat bersyukur dan terberkati melalui peristiwa ini, karena Tuhan sendirilah yang mengutus saya untuk mendampingi anak-anak ini.

Banyak di antara kita benar-benar melayani dengan tulus hati, tetapi rasa tidak puas selalu ada dalam pelayanan. Mungkin saja kita tidak mendapat apresiasi apa pun dari pelayanan sehingga membuat banyak di antara kita yang merasa kecewa, putus asa dan memilih untuk tidak melayani lagi. Mengapa kita dapat masuk ke dalam situasi seperti itu? Satu jawaban yang pasti adalah karena kita belum menyadari betul-betul makna pelayanan kita. Kalau saja kita melayani seperti Tuhan Yesus maka tidak ada satu keluhan apa pun yang keluar dari dalam mulut kita.

Dalam perikop ini, kita melihat bagaimana Yesus melayani tanpa henti dan tidak mengenal lelah, serta tidak memandang atau melihat tingkat kesulitan pelayanan yang akan dijalani. Dengan penuh kasih dan cinta Yesus melayani sampai mereka yang dilayani mengalami kasih yang memulihkan dan mereka melayani bersama Yesus serta para murid-Nya.

Melayani merupakan tanda ungkapan syukur kepada Tuhan. Tuhan melakukan karya besar di dalam dirinya dan patut disyukuri dalam melayani Tuhan. Di samping mertua Simon disembuhkan, Yesus juga menyembuhkan banyak orang sakit. Ia memberi berkat dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mereka pun sembuh. Setan-setan pun takluk dan keluar sambil  berteriak: “Engkau adalah Anak Allah”. Dia sungguh-sungguh Mesias yang dinantikan. Tuhan Yesus melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa dengan melenyapkan segala penyakit dan mengusir setan-setan sebagai wujud nyata perutusan-Nya di dunia. Ia juga melakukan satu tugas yang sangat mulia dan mendesak yakni mewartakan Injil Allah. Mewartakan Injil adalah alasan utama perutusan-Nya di dunia. Ia berkata: “Sebab untuk itulah Aku diutus”.

Apa yang Tuhan Yesus kehendaki bagi kita pada hari ini? Kita juga dapat berkata “Untuk itulah kita diutus”

Kita menerima tongkat estafet dari Tuhan Yesus untuk terlibat aktif mewartakan Injil Kerajaan Allah. Kita tidak mewartakan dengan kata-kata saja karena kata-kata bisa menjadi kata-kata kosong. Kita mewartakan Injil dalam era millenial ini dengan hidup kita, melalui perbuatan-perbuatan baik kita. Perbuatan-perbuatan baik dan hidup yang nyata lebih memberi kekuatan dalam pewartaan dari pada sekedar berkata-kata tentang Injil.

Doa: Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau membuka hati dan pikiranku supaya ikut mewartakan Injil dengan kehidupanku yang nyata, melalui perbuatan-perbuatan baik yang mencerminkan hidupku sebagai pengikut-Mu. Tolonglah aku untuk menjadi pengikut-Mu yang setia. Amin. (SWW)