Perintah Yang Terutama

Renungan Jumat 23 Agustus 2019

Bacaan: Rut. 1:1,3-6,14b-16,22Mzm. 146:5-6,7,8-9a,9bc-10Mat. 22:34-40

Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” (Mat. 22:37)

Bacaan Injil hari ini pasti sudah berulang kali kita dengarkan. Namun mari kita renungkan apakah kita sudah benar-benar melakukan perintah Yesus tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kasih merupakan hukum dan perintah yang terutama tetapi seringkali hal ini susah untuk dipraktikkan dalam tindakan kita. Namun percayalah bahwa dengan rahmat yang diberikan Tuhan memampukan kita melakukannya.    

Contohnya ketika membaca ayat ini saya merenungkan kembali perjalanan bersama Tuhan beberapa tahun terakhir di mana banyak perubahan yang saya alami secara rohani. Saya yang dulunya tidak pernah terlibat aktif dalam pelayanan, hanya ke gereja sebagai rutinitas dan sekarang banyak terlibat aktif dalam beberapa pelayanan. Apakah perbedaannya? Apakah hanya dengan melakukan ini semua saya sudah menunjukkan bahwa saya semakin mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi? Jawabannya mungkin tidak, karena saya juga kadang masih jatuh dalam dosa-dosa kecil, kadang juga masih mudah dikuasai emosi semata. Karenanya saya merasa juga saya belum bisa total dalam mengasihi Allah sebab pasti hal-hal tersebut bertentangan dengan kasih. Namun saya boleh bersyukur karena Tuhan selalu mengingatkan saya melalui firman-Nya sehingga saya bisa terus berproses menjadi lebih baik dan terus dimampukan untuk mengasihi Dia.

Mari Saudara-saudara terkasih, dalam kesempatan ini kita juga renungkan perintah Allah yang kedua yaitu untuk mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Bagaimanakah dengan kita saat ini? Sudahkah kita selalu menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kita sendiri? Apakah kita masih cenderung menempatkan kepentingan dan keinginan kita sendiri tanpa memperhatikan orang lain? Mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri ini tidak mudah tetapi bisa dilakukan. Kita dapat meneladani sikap Rut kepada Naomi pada bacaan pertama di mana karena kasih dan kesetiaannya maka dia tidak mau meninggalkan mertuanya, walaupun dia sebagai janda bebas kembali ke bangsanya. Sikap Rut ini menunjukkan kasih dan setianya bukan saja kepada Naomi tetapi juga kepada Tuhan Allah. Marilah kita terus berusaha menempatkan dan mengutamakan kasih dalam setiap tindakan dan ucapan kita sehari-hari.

Doa: Ya Allah Bapa, kami bersyukur karena engkau kembali mengingatkan kami untuk selalu mengasihi engkau dan sesama dalam setiap tindakan kami. Kami mohon curahkanlah rahmat dan kasih karunia-Mu supaya kami dapat selalu menempatkan kasih dalam setiap tindakan dan ucapan kami. Kami percaya bahwa engkau sendiri yang akan memampukan kami dalam menjalankan perintah-Mu tersebut. Kami juga mohon ampuni kami apabila terkadang masih belum bisa mengasihi engkau karena kekurangan dan kelemahan kami. Terima kasih ya Bapa. Amin. (MAR)