Hikmat dan Kuasa

Renungan Jumat 2 Agustus 2019

Bacaan: Im. 23:1,4-11,15-16,27,34b-37Mzm. 81:3-4,5-6ab,10-11abMat. 13:54-58

Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? (Mat. 13:54b)

Banyak orang cenderung menilai seseorang dari penampilan fisik, dari daerah asalnya, dari latar belakang pendidikan dan lain sebagainya. Demikian pula dengan Yesus, Ia ditolak di Nazaret hanya karena Ia anak seorang tukang kayu. Kelemahan manusia untuk dapat mengenal karya Allah melalui orang dekat adalah karena manusia kurang dapat memberi penilaian objektif mengenai kebenaran yang dialaminya.

Melalui kisah Injil hari ini kita disadarkan bahwa sebagai seorang beriman hendaknya memiliki kerendahan hati untuk dapat menerima kebenaran objektif sebagai karya Allah entah siapa pun orangnya. Bisa jadi Allah berkarya melalui anak kita, murid kita, sahabat dekat kita, juga mungkin melalui orang-orang yang kurang kita sukai.

Waktu anak saya divonis sakit kanker, seketika saya merasa lemah, kehilangan kekuatan. Tetapi Tuhan berkarya melalui anak saya.  Dia mengatakan bahwa sedih dan tangisan tidak bisa menyembuhkan, yang penting berdoa. Saya tersentak dengan kata-katanya ini, mengingatkan saya bahwa saya masih punya Bapa yang begitu mengasihi saya dan keluarga saya. Saya harus beriman, memohon dan terus berpengharapan kepada-Nya. Saya tidak boleh fokus pada penyakit anak saya tetapi saya harus tetap fokus kepada Tuhan Yesus dengan cara berdoa.

Dari peristiwa ini, saya melihat bahwa anak saya yang dalam kondisi terbaring sakit, justru dipakai Tuhan untuk menguatkan saya. Mari kita tidak memandang siapa orang yang menyampaikan, tetapi melihat dari buah-buah yang dihasilkannya. 

Memandang orang lain dengan sebelah mata, akan merugikan diri sendiri, karena itu marilah kita memperlakukan sesama kita dengan sewajarnya dengan keyakinan bahwa ada wajah Tuhan yang tersamar dalam diri sesama kita. (LFT)