Ampuni Kami

Renungan Kamis 15 Agustus 2019

Bacaan: Yos. 3:7-10a,11,13-17Mzm. 114:1-2,3-4,5-6Mat. 18:21-19:1.

Bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. (Mat.18:22)

Kemarahan, sakit hati dan dendam tampaknya menjadi bagian integral dari perasaan manusia sehingga Yesus melihat betapa mengampuni itu sangat penting dalam upaya seseorang bisa diselamatkan. Angka 7 dalam bacaan di atas mewakili angka kesempurnaan, sehingga batasan mengampuni di atas adalah mengampuni secara sempurna seperti layaknya Allah mengampuni manusia dengan sempurna dan tanpa batas. Doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri, Doa Bapa Kami juga mengajarkan bahwa sebelum memohon ampun pada Allah, kita harus memenuhi satu kondisi, yaitu kita terlebih dahulu harus mengampuni yang bersalah kepada kita. 

Suatu ketika saya mendengarkan lagu melalui YouTube. Lagu ini lembut dan liriknya pun mudah untuk diikuti. Saya pun seringkali mengulang-ulang lagu tersebut, sampai pada suatu saat suami saya memperhatikan bahwa ada kalimat yang kurang sesuai dengan pandangan tentang mengampuni menurut ajaran yang sudah kita yakini. Lirik itu menyatakan bahwa dia meminta pengampunan atas ketidakmampuannya untuk mengampuni. Cuplikan liriknya adalah: ”…Ampuni bila kami, tak mampu mengampuni yang bersalah kepada kami. Seperti hati bapa mengampuni, mengasihi tiada pamrih”. Saya  tidak mengetahui apa latar belakang penciptaan lagu tersebut, tetapi lirik itu tidak sejalan dengan Doa Bapa Kami yang kita doakan setiap hari.

Di dalam Doa Bapa Kami, kita boleh mengharap pengampunan Allah, jika kita telah memenuhi satu kondisi yang ditetapkan Allah dalam memohon pengampunan, yaitu terlebih dahulu mengampuni yang bersalah kepada kita. 

Allah tidak juga menentukan kriteria bahwa yang bisa diampuni hanyalah kesalahan ringan atau sedang, sedangkan kita tetap diizinkan untuk menahan pengampunan untuk kesalahan yang sangat berat atau menyakitkan kita. Dengan tidak adanya kriteria atau batasan pengampunan, berarti kita harus mengampuni untuk semua tingkat kesalahan. Tentu mengampuni adalah sesuai hal yang sangat sulit dilakukan, terutama jika kita tidak bersalah, jika lukanya masih baru dan masih belum sembuh. Namun kita dituntut untuk memberi pengampunan sesegera mungkin, seperti penegasan dalam Matius 5:24 yang mengatakan “tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilan berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu”.

Jadi pengampunan sifatnya “urgent” atau segera yang harus didahulukan sebelum  segala persembahan, perbuatan baik atau pelayanan yang  akan menjadi tidak berarti tanpa pengampunan kepada sesama.

Marilah berdoa: Ya Bapa ketika kami bergumul dengan kemarahan, dendam dan sakit hati kami mohon agar Kau lembutkan hati kami, sehingga kami mampu mengampuni sesama kami. Karena hanya dengan itu kami dapat meraih pengampunan dan keselamatan yang telah diberikan dari pada-Mu melalui Yesus Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin. [LSL]