Siapakah Sesamaku?

Renungan Sabtu 14 Juli 2019, Hari Minggu Biasa XV

Bacaan: Ul. 30:10-14Mzm. 69:14,17,30-31,33-34,36ab,37 atau Mzm. 19:8,9,10,11Kol. 1:15-20Luk. 10:25-37

Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” (Luk. 10:29)

Suatu pagi seperti biasa saya ke pasar untuk berbelanja. Kebetulan jarak pasar dan tempat tinggal tidak jauh sehingga cukup berjalan kaki saja. Entah mengapa pagi itu tanpa saya sadari, saya membawa serta kartu ATM, padahal sebenarnya kalau untuk belanja saja tidak perlu harus mengambil uang di ATM yang kebetulan saya lewati dalam perjalanan ke pasar.

Saya pun singgah di ATM Centre. Antrian di ATM cukup panjang. Selagi hampir tiba giliran saya, tiba-tiba saya mendengar suara benturan keras dan orang berteriak-teriak. Sejenak saya bergeser dari antrian, mencari arah suara tadi sekedar ingin tahu apa yang terjadi, ternyata ada kecelakaan. Kemudian saya kembali antri di ATM.

Selesai dari ATM saya mendatangi tempat kejadian. Sudah banyak kerumunan orang di situ, termasuk seorang dokter tetangga saya. Pandangan saya tertuju kepada seorang bocah laki-laki berseragam SMP sedang  berjongkok di pinggir jalan dengan wajah berdarah-darah. Orang-orang masih ribut, entah apa yang diributkan. Saya bergegas memanggil taksi dan tanpa bertanya-tanya saya gandeng tangan anak tersebut, lalu saya ajak naik taksi untuk membawanya ke rumah sakit. Ternyata ada anak perempuan yang mengikuti sambil menangis melarang saya membawa anak itu, sambil bertanya mau dibawa ke mana. Saya menjelaskan bahwa saya akan membawa ke rumah sakit karena lukanya harus segera diobati. Anak perempuan itu ternyata kakak dari anak yang wajahnya berdarah-darah itu. Dia mengatakan tidak punya uang untuk membawa adiknya ke rumah sakit. Uang sekolah saja tertunda sampai beberapa bulan. Bersyukur bahwa tidak ada yang parah setelah dilakukan perawatan luka-lukanya dan foto ronsen tidak ada tulang yang cedera. Saya antar mereka berdua pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang itulah baru mereka bercerita bahwa mereka dari keluarga bermasalah. Oleh karenanya mereka selalu merasa ketakutan, seperti pada waktu saya ajak mereka ke rumah sakit, mereka takut akan mendapat marah dari orangtuanya.

Dalam perjalanan saya merenungkan kembali mengapa saya harus membawa ATM dan mengambil uang di pagi hari itu, rupanya ada yang harus saya lakukan untuk anak itu. Saya melakukannya begitu saja, semacam mengikuti suara hati.

Kemudian saya sampai pada kesimpulan bahwa kepekaan harus selalu dilatih, kepedulian harus selalu dilakukan karena tindakan kasih berawal dari keduanya.

Seperi orang Samaria yang murah hati (Luk10:33-35), jatuh belas kasihannya melihat derita orang yang mengalami perampokan. Dia bukan hanya berempati, tetapi menhampiri, menyiram luka-luka orang itu dengan minyak dan anggur, membalut lukanya, menaikkannya ke atas keledai tunggangannya sendiri, membawanya ke penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia memberikan uang dua dinar kepada pemilik penginapan supaya merawatnya, dengan janji, apabila dia mengeluarkan biaya perawatan lebih dari dua dinar, orang Samaria itu akan membayarnya apabila ia pulang kembali.

Berbelas kasih tanpa batasan apa pun, kepada siapa pun, totalitas (memberi dan melakukan yang terbaik sampai tuntas).

Doa: Ya Allah, Bapa yang sangat baik, mampukanlah kami berbelas kasih dan murah hati seperti Engkau. Amin. (ANS)