Pelayan Yang Lebih dari Pelayan

Renungan Kamis 25 Juli 2019, Pesta St. Yakobus Rasul

Bacaan: 2Kor. 4:7-15Mzm. 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6Mat. 20:20-28

Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. (Mat. 20:28)

Shalom, sahabat terkasih di dalam Kristus.

Ada banyak macam pekerjaan di dunia ini yang dasarnya adalah pekerjaan jasa atau pekerjaan melayani. Namun tidak semua orang yang bekerja di bidang jasa ini memahami fungsinya sebagai pelayan. Sebut saja mereka yang berkecimpung di pelayanan publik, banyak orang yang mengeluhkan pelayanan publik di negeri ini. Sampai ada istilah “kalau bisa dibuat susah, buat apa dipermudah”. Hal seperti ini tampaknya sudah mendarah daging, sehingga kalau ada petugas yang melayani masyarakat dengan lebih baik, akan dicap idealis, cari muka, atau bahkan dipandang sebagai orang aneh.

Namun puji Tuhan, masih ada orang-orang yang ingin budaya seperti ini berubah. Semua orang pasti tahu dan pernah mendengar sosok pak Ahok atau BTP. Seorang yang berdedikasi dalam melaksanakan tugasnya. Dia tidak segan menegur pegawainya yang tidak bekerja sebagai pelayan publik yang baik. Sering kita lihat warga DKI mengantri dari subuh untuk mengadukan masalahnya yang tidak bisa diselesaikan atau memang ada pihak yang berusaha membuat masalahnya tidak selesai. Dia tidak hanya mau mendengarkan keluhan-keluhan warganya, namun dengan sigap juga berusaha memberikan solusi secepat mungkin. Namun sayang, “pelayan” yang seperti ini tidak disukai oleh pelayan lain yang lebih condong menjadi bos. Pak Ahok sudah undur dari hingar bingar politik dan pelayanan masyarakat, tapi semangat melayaninya terus hidup dan menginspirasi banyak pihak untuk mulai melayani dengan baik. Contoh lain adalah bu Risma, sama-sama tegas dan selalu mau melayani dengan baik.

Injil hari ini sepertinya adalah inspirasi yang baik seperti yang pak Ahok dan bu Risma praktikkan. Tuhan Yesus mengingatkan kita semua untuk menjadi pelayan yang lebih dari pelayan. Betapa tidak, di dalam ayat ke 26 dikatakan, “….Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” Bagaimana mungkin? Bukannya bos atau pimpinan adalah yang terbesar dari semua bawahannya?

Sahabat, yang dimaksudkan di sini bukan jabatannya, tapi hidupnya, semangatnya, fiosofi hidupnya. Tuhan Yesus adalah guru dari semua murid-Nya, tapi kerendahan hati-Nya mampu mengubah hidup murid-murid-Nya. Tuhan Yesus adalah Raja dari semua raja yang ada di muka bumi ini, tapi kehambaan-Nya membuat semua penguasa yang sombong di muka bumi ini menjadi terpesona. Tuhan Yesus adalah Tuhan, yang layak disembah, ditinggikan dan dilayani, namun Dia hadir di muka bumi ini dengan satu misi “ … Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Mari sahabat, mungkin kita masih suka dipanggil “bos” daripada “pelayan”, kita masih punya cita-cita menjadi orang terhebat di lingkungan kita masing-masing, itu tidak salah, yang Tuhan mau punyailah sikap melayani seperti Yesus sendiri lakukan, taat melayani sampai Bapa memanggil pulang kembali. Buang jauh-jauh rasa capek untuk melayani orang lain. Mintalah kepada Tuhan Yesus agar kita diizinkan menjadi pelayan yang lebih dari pelayan. Karena dengan cara demikianlah, kelak kebaikan dan nama kita akan dikenang oleh anak cucu keturunan kita.

Selamat beraktivitas para sahabat dan pelayan Tuhan, serta teruslah bersaksi bagi nama Tuhan. Tuhan Yesus memberkati kita semua. (BVJSW)