Mengapa 30 Kali Lipat?

Renungan Rabu 24 Juli 2019

Bacaan: Kel. 16:1-5,9-15Mzm. 78:18-19,23-24,25-26,27-28Mat. 13:1-9

Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. (Mat. 13:8)

Perumpamaan benih yang jatuh di empat jenis tempat ini sebetulnya telah cukup jelas bagi kita, bahwa Sabda Tuhan ternyata tidak akan membawa perbaikan apa-apa bila tidak jatuh di tempat yang tepat. Kita semua tahu bahwa sebagai murid, kita diharapkan membuka hati kita agar menjadi tanah yang subur yang akan menghasilkan banyak buah.

Namun yang perlu kita cermati, mengapa benih yang jatuh ke tanah subur inipun tidak sama hasilnya?

Kita mendengar Yesus berkata buahnya bisa 100 kali, 60 kali atau pun 30 kali lipat. Mengapa ada yang banyak dan ada yang sedikit?

Kita berbuah sedikit karena tidak bisa maksimal bertumbuh, bukan karena Tuhan memberi sedikit talenta. Satu talenta pun akan berbuah 100 kali lipat bila dikembangkan dengan tekun.

Kita manusia seringkali terhambat dengan bayangan gambar diri yang salah. Gambar diri yang salah ini bisa disebabkan oleh karena penolakan masa lalu, kritikan orang tua atau siapa saja sejak kecil (atau dibandingkan dengan orang lain), atau penilaian sesama berdasarkan kekayaan atau posisi.

Semua ini bisa mengakibatkan rasa rendah diri yang tidak pada tempatnya, sehingga kita tidak mampu melakukan sesuatu secara maksimal. Kita merasa kecil, tidak mampu, tidak layak dan tidak berani berinisiatif atau mengembangkan diri secara maksimal.

Saudaraku, kalau saat ini engkau mengalami hal ini, ingatlah bahwa Allah kita menciptakan kita segambar dan secitra dengan-Nya. Jadi segala keberadaan kita perlu diterima dengan rasa syukur dan digunakan sesuai dengan rencana-Nya. Kita masing-masing dikenal-Nya secara pribadi dan sama-sama berharga dalam pandangan-Nya. Dengan demikian, tidak ada lagi alasan untuk tidak mempersembahkan buah sebanyak mungkin bagi Kerajaan Allah. Kita semua bisa!!

Doa: Ya, Tuhan, bantulah aku melihat diriku sebagai mana Engkau melihatku, sehingga aku mampu melihat karya indah-Mu dalamku, dan aku tersemangati untuk melakukan yang terbaik untuk-Mu. Amin. (HCLK)