Melawan Lupa

Renungan Sabtu 20 Juli 2019

Bacaan: Kel. 12:37-42Mzm. 136:1,23-24,10-12,13-15Mat. 12:14-21

Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. (Mat. 12:20)

Beberapa hari yang lalu beredar berita dan video di media sosial, seorang suami mengamuk dalam gereja. Pasutri ini awal mulanya berdoa, tetapi kemudian terjadi cekcok di antara mereka dan untuk melampiaskan amarahnya sang suami membanting lilin-lilin dan beberapa peralatan lain di gereja sampai hancur berantakan. Saya seketika berkomentar, “Wah ngamuk kok di gereja, mbok ya kalau marah-marah di rumah.”Jawaban saudara saya, “Ya orang kalau lagi stress gak bisa milih tempat.

Sobatku yang terkasih, inilah gambaran manusia yang terpecah jiwanya tidak bisa lagi menggunakan akal budi, tidak bisa mengendalikan dirinya, tapi dikuasai sepenuhnya oleh hawa nafsu, dikuasai oleh dosa. Yang bisa membebaskan manusia dari dosa hanya Yesus saja.

Dalam bacaan pertama kita diingatkan kembali bagaimana Allah melalui Musa menuntun bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, keluar dari perbudakan Mesir. Bagaimana tangan Allah bekerja pada saat mereka terjepit. Saat itu situasi bangsa Israel dikejar-kejar dan tidak tahu lagi harus lari ke mana karena di depan mereka adalah laut yang begitu luas. Mereka tidak punya perahu besar dan tidak mungkin juga naik perahu karena mereka jumlahnya ribuan.

Namun sungguh ajaib dan dahsyat, Allah izinkan Musa menguasai lautan dengan membelahnya menjadi dua dan terbentuklah suatu jalan yang kering sehingga bangsa Israel berduyun-duyun dapat melaluinya tanpa basah setitik pun. Saat mereka sudah tiba di seberang laut, daratan itu pun tertutup dengan air sehingga pasukan-pasukan yang mengejarnya mati tenggelam.

Bangsa Israel seketika itu bersorak sorai, memuji dan memuliakan Allah. Namun setelah beberapa saat menghadapi tantangan perjalanan melewati padang pasir (panas lapar haus membosankan) mereka menjadi bersungut-sungut dan lupa akan pertolongan Allah. Mereka lupa akan tangan Allah yang sanggup membebaskan dari masalah apapun. Mereka kurang sabar dan menjadi tidak taat, sombong dan dikuasai sepenuhnya oleh hawa nafsu dan dosa.

Peristiwa pembebasan ini identik dengan bagaimana Yesus juga telah membebaskan kita manusia dari perbudakan dosa dan setan. Peristiwa ini selalu kita kenang lewat Sakramen Ekaristi.

Dalam Sakramen Ekaristi kita mengenang pengorbanan Yesus sampai titik darah penghabisan untuk menyelamatkan manusia yang telah kehilangan rahmat sehingga keadaannya menjadi tak tertolong, frustrasi, putus asa, miskin, memberontak dan ingin mencapai tujuannya di luar Allah. Hati mereka berada dalam kegelapan. Manusia tak mampu memerangi serangan-serangan dan keterpecahan dirinya sendiri. Bahkan mereka merasa dirinya baik-baik saja.

Persatuan yang kita alami dengan Kristus lewat Sakramen Ekaristi dan relasi yang mesra dengan Yesus akan membuka hati kita kepada-Nya sehingga seperti buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Yesus tidak akan membiarkan kita jatuh terpuruk dan binasa.

Mari sobat, kita terus melawan lupa akan kebaikan Tuhan dalam sejarah kehidupan manusia. Mari terus kita ajarkan kepada orang-orang lain di sekitar kita.

Doa: Ya Roh Kudus ajar kami selalu bersyukur dan mengingat pengorbanan Yesus dan mewartakan kabar baik ini kepada orang lain. Amin. (PPT)