Ketulusan dan Kesetiaan

Renungan Senin 1 Juli 2019

Bacaan: Kej. 18:16-33Mzm. 103:1-2,3-4,8-9,10-11Mat. 8:18-22

Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” (Mat. 8:20)

Di antara mereka yang mengelilingi Yesus, ada seseorang yang mengungkapkan keinginannya untuk mengikuti ke mana pun Yesus pergi. Tetapi Yesus menjawab bahwa serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala- Nya.  

Saya yang mengalami kasih Tuhan mempunyai kerinduan juga untuk mengikuti Yesus dan mempersembahkan diri untuk melayani DIa dengan tulus dan setia. Dengan menggebu-gebu seperti orang yang baru jatuh cinta kepada seseorang, saya selalu ingin menyenangkan hati orang yang saya cintai, bahkan siap menderita demi kebahagiaannya. Tetapi dalam kenyataan, saya lebih suka tinggal di zona nyaman, kebiasaan-kebiasaan, kesenangan-kesenangan saya pribadi. Sehingga beberapa waktu kemudian, saya kembali kepada kehidupan atau kebiasaan yang lama.

Hal itu juga dialami para Rasul pada saat Yesus wafat dan dimakamkan. Mereka kembali pada kebiasaan kehidupan mereka yang lama. Tetapi Yesus melihat akan apa yang ada di dalam kedalaman hati para Rasul. Kesedihan, kepedihan, kegalauan, kerinduan hati mereka yang tulus dan setia, tetap mencintai dan merindukan Tuhan Yesus, dalam lubuk hati mereka yang paling dalam. Yesus yang sangat mengasihi para Rasul, tidaklah membiarkan murid-Nya tetap tinggal dalam pergumulan mereka sendirian di zona nyaman masa lalu. Sesudah kebangkitan-Nya, maka mereka dikumpulkan kembali oleh Yesus dan diminta untuk senantiasa berkumpul, berdoa bersama sampai kuasa Allah yang Maha Tinggi turun atas mereka bersama Bunda Maria. Yesus mengharapkan dan melatih para murid untuk membentuk persekutuan, doa bersama dengan tekun dan setia sampai pada Hari Pentakosta. Para Rasul yang tulus, tekun, dan setia melaksanakan kehendak Yesus sehingga mereka mengalami hidup baru, diurapi dan  dibimbing oleh kuasa Roh Kudus.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Yesus, serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala. Tuhan Allah yang hidup, selalu mengajak saya keluar dari zona nyaman saya. Dia merindukan saya bergerak mengikuti dan melaksanakan kehendak-Nya dengan ketulusan hati dan kesetiaan, tanpa dalih apapun.    

Doa: Tuhan ampuni saya yang kurang ketekunan dan kesetiaan dalam mengikuti Engkau yang ingin memberikan hidup yang penuh sukacita dalam Engkau. Betapa seringnya saya lebih suka hidup menurut ego saya sendiri, dengan bermacam dalih. Ubahlah dan anugerahkanlah kepada saya kepekaan, ketaatan seperti yang Engkau telah anugerahkan kepada para Rasul. Terima kasih Tuhan. Amin. (JRW)