Hati Yang Melayani

Renungan Selasa 9 Juli 2019

Bacaan: Kej. 32:22-32Mzm. 17:1,2-3,6-7,8b,15Mat. 9:32-38

Kehidupan orang Kristen yang normal adalah ketika ia menyadari panggilan Tuhan dalam hidupnya. Salah satu tujuan Tuhan memanggil kita adalah untuk melayani Dia. Jika sampai saat ini kita masih bersikap acuh tak acuh, apatis dan sama sekali tidak terbeban untuk terlibat dalam pelayanan atau mendukung pekerjaan Tuhan, itu artinya kehidupan kekristenan kita  ‘tidak normal’.  Mengapa? Karena bagi orang percaya pelayanan adalah keharusan dan seharusnya menjadi gaya hidup, bukan sekedar pilihan karena Tuhan lebih dahulu melayani kita.

Sahabat, hari ini kita diajak untuk menyaksikan bagaimana pelayanan Yesus: memberitakan Injil, menyembuhkan orang sakit dan membebaskan orang dari kuasa jahat setan.

Memang tidak banyak orang yang tergerak hatinya untuk memberi diri untuk melayani orang lain karena lebih cenderung melayani diri sendiri. Yesus menyadari hal itu sehingga Ia menyuruh murid-murid-Nya untuk menjadi pekerja di ladang Tuhan. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Mat. 9:37-38)

Bagaimanakah dengan kita?

Sesungguhnya kasih karunia-Nyalah yang mendorong seseorang mau menjadi pekerja, menuai tuaian itu. Menerima panggilan melayani itu adalah karya Roh Kudus. Bukan karena keinginan manusia. Oleh karena itu kita perlu dimenangkan oleh kasih karunia Allah (mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah) agar kita mampu mengalahkan manusia lama kita.

Seperti halnya Yakub dapat menang dalam pergumulannya dengan Allah bukan melalui kekuatan yang dimilikinya, tetapi dengan menangis dan memohon belas kasihan. Inilah kunci dari kemenangan Yakub dalam pergumulannya dengan Allah. Dari pergumulan sengit dan keinginan kuat untuk memohon berkat dari Tuhanlah Yakub mendapatkan nama barunya, Israel ( Kej. 32:26-28).

Sahabat, sebagai  ‘manusia baru’  kita hidup di dalam kasih karunia Tuhan, artinya hidup di dalam perlakuan istimewa dari Tuhan dan hidup di dalam janji Tuhan. Meski kita hidup di dalam hukum kasih karunia Tuhan bukan berarti kita bisa hidup sekehendak hati atau sebebas-bebasnya tanpa ada pagar pembatas. Di dalam kasih karunia Tuhan memberikan rambu-rambu-Nya yaitu melalui firman-Nya, yang bila dilanggar kita pun dapat kehilangan kasih karunia Tuhan itu. Oleh karena itu belajarlah dari Pemazmur; dia tetap konsisten, berani diuji, diperiksa tentang ketaatannya mematuhi firman Allah (Mzm. 17:3).

Doa: Allah yang Maha Rahim, berikan kepadaku hati yang mau melayani orang lain lebih dari kepentingan diri sendiri dan bentuklah hatiku sama seperti Kristus yang memiliki hati yang melayani. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin. (FHM)