Surga Akan Datang atau Surga Saat Ini?

Renungan Minggu 2 Juni 2019, HARI MINGGU PASKAH VII, Hari Minggu Komunikasi Sedunia

Bacaan: Kis. 7:55-60Mzm. 97:1,2b,6,7c,9Why. 22:12-14,16-17,20Yoh. 17:20-26

SURGA: AKAN DATANG ATAU MULAI SAAT INI?

Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. (Yoh. 17:24)

Bacaan pertama pada hari Minggu Paskah VII ini menceritakan martir pertama, St. Stefanus, di mana ketika menghadapi kemartirannya, dia penuh Roh Kudus dan menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah (Kis. 7:55-56).

Kemudian bacaan kedua menyatakan bahwa Tuhan Yesus akan datang segera dan membawa upah untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya, yaitu kebahagiaan Surgawi bersama Dia (bdk. Why. 22:12,14).

Dan dalam bacaan Injil menyatakan kerinduan Tuhan Yesus supaya para murid-Nya bersama-sama dengan Dia, di mana Dia berada, untuk senantiasa memandang kemuliaan-Nya (bdk. Yoh 17:24).

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari Minggu ini mengarahkan kita pada tujuan akhir dan pemenuhan kerinduan terdalam manusia, yaitu kehidupan Surgawi, hidup dalam kebahagiaan tertinggi dan definitif. Surga adalah kehidupan sempurna bersama Allah Tritunggal Maha Kudus, hidup dalam persekutuan dan cinta kasih bersama Allah, bersama Bunda Maria, para malaikat dan orang kudus (bdk. Katekismus Gereja Katolik/ KGK 1024).

Kehidupan Surgawi ini merupakan anugerah dan pemberian Allah bagi orang yang percaya kepada Allah. “Orang yang mati dalam rahmat dan persahabatan Allah dan disucikan sepenuhnya, akan hidup selama-lamanya bersama Kristus. Mereka serupa dengan Allah untuk selama-lamanya, karena mereka melihat Dia “dalam keadaan-Nya yang sebenarnya” (1 Yoh. 3:2) dari muka ke muka (bdk.1 Kor. 13:12; Why. 22:4)” (KGK 1023).

Surga memang merupakan tujuan akhir dan pemenuhan kerinduan terdalam manusia, tetapi perlu kita sadari bahwa Surga bukan hanya soal nanti, yaitu kehidupan sesudah kematian. Karena kalau orang hanya berpikir surga soal nanti, maka orang bisa terjebak pada pandangan yang berfokus untuk mengejar hidup di dunia ini, dan bertobat soal nanti kalau sudah mau mati, tetapi pertanyaannya siapa yang bisa memastikan orang akan bertobat sebelum menghadapi kematian?

Dalam Injil Yohanes 17:3, Tuhan Yesus bersabda: “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”

Dari apa yang dinyatakan Tuhan Yesus ini, maka kehidupan surgawi bukan hanya soal nanti sesudah kematian, tetapi kehidupan surga dapat dimulai saat ini, yaitu bila kita hidup dalam pengenalan akan Allah. Pengenalan akan Allah ini merupakan suatu yang mendasar dan menjadi inti kehidupan Kristiani, bahkan St. Paulus menyatakan bahwa inilah kerinduan dan keinginannya: “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia (Kristus) dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” (Flp. 3:10-11).

Pengenalan akan Allah pada dasarnya adalah suatu hubungan pribadi dengan Allah dalam iman, harapan dan kasih. Dalam hubungan dengan Allah, tidak cukup hanya sekedar “tahu” dari apa yang kita terima dari pelajaran agama, tetapi kita dipanggil untuk “kenal” secara pribadi dengan Allah, untuk itu perlu dipupuk hubungan pribadi dengan Allah yang terus-menerus, melalui kehidupan doa, pembacaan Kitab Suci, penghayatan Sakramen, dsb.

Untuk sungguh-sungguh mengenal Allah, kita bergantung dan membutuhkan Roh Kudus. Dalam hari-hari ini Gereja mengajak kita melakukan Novena Roh Kudus, yang kita doakan selama sembilan hari dari Hari Raya Kenaikan Tuhan sampai Hari Raya Pentakosta. Dalam novena ini, kita juga diajak menyanyikan lagu Veni Creator Spiritus (Datanglah Roh Pencipta), karya dari Rahib Rabanus Maurus, seorang teolog tentang Roh Kudus, yang menciptakan lagu ini pada abad IX.

Dari lagu ini, pada bait ke enam, Gereja mengajak kita mohon kepada Roh Kudus: “Buatlah kami mengenal serta mengimani terus, Bapa dan Putra yang Tunggal, dan Engkau Roh Keduanya”. Untuk sungguh-sungguh mengenal Allah dan memasuki hubungan pribadi dengan Allah Tritunggal Maha Kudus, betapa kita membutuhkan Roh Kudus.

Doa: Allah Roh Kudus, buatlah kami mengenal Allah dari hari ke hari, semakin dalam dan semakin dalam lagi. Buatlah kami supaya dengan mengenal Allah secara pribadi, maka kami sudah mengalami pra rasa hidup surgawi mulai saat ini, sampai akhirnya kami boleh memandang Allah dari muka ke muka. Amin. (ETJ)