Kasih Kristus Melebihi Kasih Dunia

Renungan Senin 17 Juni 2019

Bacaan: 2Kor. 6: 1-10Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4Mat. 5:38-42

Tetapi aku berkata kepadamu, “Janganlah kalian melawan orang yang berbuat jahat kepadamu. Sebaliknya, bila orang menampar pipi kananmu, berikanlah pipi kirimu. (Mat.5:39)

Kasih dunia mengajarkan bahwa jika seseorang menyakiti kita, maka kita sebaiknya mendiamkan dan tidak membalas yang menyakiti kita. Namun kasih Kristus menuntut murid muridnya untuk melakukan lebih daripada kasih dunia tadi. Tingkat kesulitan dari perintah yang lebih dalam dari tuntutan dunia ini membuat ayat ini mudah diingat karena sebagian dari kita masih sulit untuk mewujudkannya bahkan ada yang merasa ini salah satu lelucon Injil.

Dalam kehidupan sehari hari, seringkali kita berada dalam  tantangan yang sama yaitu ketika seseorang menyakiti kita, merugikan kita, sebagian dari kita masih bergulat  apakah kita mampu bahkan untuk mendiamkan saja? Kalau kita bisa mencapai tahap untuk mendiamkan, menerima kondisi yang merugikan ini, bahkan langsung memaafkan apakah kita bisa mencapai tahap selanjutnya yaitu kita bisa memberikan pipi kanan atau pemulihan? Nah di sini tantangan dari ayat ini kepada kita murid-murid Kristus untuk dapat menerapkan perintah ini bukan karena kita lemah, bukan karena kita takut melainkan muncul dari sikap hati yang benar yang telah diajarkan oleh Yesus dengan kematian-Nya di salib, yaitu kasih yang mendalam.

Paus Yohanes Paulus II telah memberikan teladan pada kita akan ayat ini, bahwa setelah ia ditembak oleh Mehmet Ali Agca pada 13 Mei 1981 yang menyebabkan tiga peluru bersarang di tubuhnya, ia mengampuni Mehmet dan bahkan mengunjungi Mehmet di penjara.

Kita, walaupun dengan skala yang berbeda, tetap dihadapkan pada situasi yang sama dalam keseharian kita. Seorang ibu rumah tangga mendapatkan asisten rumah tangga (ART) telah mencuri uang darinya. Hukum atau ajaran dunia mengatakan bahwa ART itu harus segera diberhentikan karena aspek kejujuran, suatu hal yang paling utama  tidak dimiliki oleh ART tersebut dan hal ini bisa menjadi ancaman di kemudian hari. Ibu tersebut memanggil ART tersebut dan hanya mengatakan bahwa dia telah kehilangan uang, namun dia ikhlas atas kehilangannya. Wajah ART awalnya menunjukkan ketakutan karena ia sudah mengantisipasi akan didakwa dan dikeluarkan, namun wajahnya berubah menunjukkan perasaan bersalah dan menangis mengakui kesalahannya. Ibu tersebut menepuk bahunya dan memaafkan, serta memberikan tambahan dana untuk menutupi kebutuhannya.

Sulitkah melakukan hal ini? “Ya.” Karena hati manusia kita berkecamuk dan memberontak, karena tidak selaras dengan pandangan dunia. Namun haruskah kita melakukannya? Jawabnya tidak akan berubah: “Ya”, karena kita murid-murid Kristus dan harus mengikuti hukum kasih Kristus. Di antara kesulitan menjalankan dan keharusan menjalankan selalu dapat dijembatani dengan meminta bantuan Roh Kudus yang ada dalam diri kita masing-masing yang  akan memampukan kita untuk setahap demi setahap menjalankan ini dan berusaha menjadi kudus hari demi hari. 

Ya Yesus Kristus, dengan salib-Mu Kau mengajari kami untuk menerima apa yang sebenarnya tidak layak Kau terima. Kau menanggung penderitaan dengan sabar dan rendah hati. Mampukan kami untuk belajar bahwa untuk dapat menerima penderitaan kami yaitu menerima tamparan pipi kiri dan pipi kanan menerima cinta-Mu serta membalas cinta-Mu dan hidup seturut model teladan yang Kau ajarkan sehingga pada akhirnya kami pulang, menghadap, menatap dan menyapa-Mu: “Ya Tuhanku dan Allahku.” (LSL)