Jangan Takut

Renungan Minggu 9 Juni 2019, Hari Raya Pentakosta

Bacaan: Kis. 2:1-11Mzm. 104:1ab,24ac,29bc-30,31,341Kor. 12:3b-7,12-13 atau Rm. 8:8-17Yoh. 14:15-16,23b-26

Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya. (Yoh. 14:16)

Empat puluh hari lamanya Tuhan berulang-ulang menampakkan diri kepada para murid untuk memberikan peneguhan, hingga menyampaikan amanat agung sebelum Ia naik ke surga (Mat. 28:19-20). Tetapi murid-murid itu masih juga belum beranjak untuk segera malaksanakan amanat ‘mengajar segala bangsa’. Mereka malah mengunci diri dalam rumah takut ditangkap orang Yahudi. Mereka merasa sendiri, terlalu kecil dan tak berdaya untuk memikul tugas berat yang diamanatkan Yesus.

Tuhan Yesus tidak akan pernah meninggalkan mereka sendirian seperti yatim piatu (Yoh. 14:18). Pada hari Pentakosta diutus-Nya Sang Penolong yaitu Roh Kudus, kekuatan Allah, agar menyertai, menjiwai dan menguatkan dalam karya pewartaan kabar keselamatan. Sejak itu para rasul menjadi berani mewartakan kabar gembira secara terus terang dan tidak takut ancaman ataupun ditangkap. Dalam Roh Kudus, Yesus sendiri dengan segala kekuasaan-Nya selalu berada bersama para murid.

Apa yang dialami oleh para rasul pada masa gereja purba itu, mungkin juga kita alami sekarang ini. Perasaan takut, sendirian, minoritas dan tak berdaya di tengah ganasnya masyarakat yang sering memandang rendah, menghina, mengkafirkan, bahkan mengucilkan dan menyingkirkan kita. Bagaimana mungkin kita berani mewartakan kabar gembira itu?

Roh Kudus yang menguatkan para murid pada hari Pentakosta juga akan menguatkan kita. Roh Kudus yang sama telah kita terima dalam Sakramen Baptis dan Krisma. Melalui Sakramen Baptis, kita menerima Roh Kudus untuk kita sendiri, sehingga kita diangkat anak Allah. Melalui Sakramen Krisma, kita menerima Roh Kudus supaya kita meneruskan kepada orang lain.

Menyadari hal ini, maka tidak ada alasan lagi bagi kita untuk merasa khawatir, apalagi takut dalam mewartakan kabar keselamatan Kristus bagi sesama. Kita percaya bahwa dalan diri kita yang lemah, Roh Kudus akan berkarya. Sekecil apa pun kemampuan kita, jangan lelah untuk melaksanakan amanat agung Yesus di mana pun kita berada. Garam memang sedikit, tetapi pengaruhnya meluas memberi nikmat seluruh makanan. “Justru dalam kelemahan, kekuatan Allah menyatakan diri dengan sempurna.” (2 Kor. 12:9). Asal kita bersatu dengan Kristus, percayalah usaha kita memiliki daya dorong yang luar biasa dari Roh Kudus sendiri.

Doa: Ya Bapa, utuslah Roh Kudus untuk menguatkan kami yang lemah ini sehingga mau dan mampu mewartakan kabar keselamatan-Mu ke tengah masyarakat. Amin. (MYM)