Jangan Lupakan Kebaikan-Nya

Renungan Sabtu 15 Juni 2019

Bacaan: 2Kor. 5: 14-21Mzm. 103:1-2,3-4,8-9,11-12Mat. 5:33-37

Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! (Mzm. 103:2)

Mazmur 103 merupakan ayat-ayat favorit saya. Bagaimana Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus menyertai hidup saya mulai dari awal kehidupan saya sampai sekarang saya menulis renungan ini.

Tuhan menempatkan saya dalam kelurga Katolik sehingga mulai bayi saya sudah dibaptis untuk menjadi anggota kerajaan Allah. Saya mendapat pendidikan di sekolah Katolik hingga saya meyelesaikan sarjana. Tuhan memberikan pekerjaan kepada saya pada saat saya lulus kuliah. Bahkan ketika masih skripsi pun, Tuhan telah memberi pekerjaan yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Itulah yang disediakan Allah bagi saya.

Tuhan juga menganugerahi suami dan anak-anak yang baik dan sehat tak kurang satu apa pun, meskipun dalam perjalanan ada konflik, masalah, kesulitan dan hambatan, tetapi kami boleh melewatinya bersama Tuhan. Jalan keluar, kekuatan, pertolongan dan rahmat-Nya selalu baru dan tak pernah habis dalam hidup saya.

Maka sudah layak dan sepantasnya bila saya berseru kepada jiwa saya terlebih dulu: Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! (Mzm. 103:1‭-‬2).

Di ayat selanjutnya dikatakan bahwa Dialah yang mengampuni segala kesalahan, yang menyembuhkan segala penyakit. Ini pun saya alami di mana saya melakukan pelanggaran dan kesalahan yang tak terhitung, sehingga dalam Sakramen Tobat pun, dosa yang hampir sama disebutkan berulang kali. Namun Tuhan Yesus sebagai Raja Kerahiman Ilahi mencurahkan pengampunan-Nya tak terbatas kepada manusia yang mohon belas kasih Nya. Ketika sakit, Tuhan selalu hadir menguatkan dan menyembuhkan sehingga saya semakin merasakan kasih-Nya yang begitu nyata.

Di ayat selanjutnya, Daud mengatakan, bahwa Tuhan yang menebus hidup kita dari lubang kubur, yang memahkotai kita dengan kasih setia dan rahmat. Saya menyadari bahwa tanpa kasih karunia Allah Bapa melalui wafat dan kebangkitan putra-Nya, saya binasa di lubang kubur. Saya tidak dapat berbuat apa-apa di luar Yesus Sang Pokok Anggur Kebenaran. Maka tentu saja saya mau menjadi ranting-ranting-Nya untuk menerima aliran air hidup-Nya.

Kembali saya merenung ketika saya dan keluarga yang setiap hari melewati jalan raya baik ke kantor atau ke sekolah atau berpergian melalui darat, laut maupun udara. Risiko kecelakaan tentu saja bisa terjadi kapan saja entah kita yang mungkin lengah atau orang lain yang lengah, tetapi kami ada dalam perlindungan dan kendali-Nya. 

Maka marilah kita selalu datang kepada-Nya untuk memuji, menyembah dan memuliakan nama-Nya yang kudus. Dia Allah yang panjang sabar dan kasih setia-Nya kekal abadi. Dialah andalan dalam hidup segala makhluk. Kemuliaan-Nya mengatasi langit dan bumi, Raja segala raja, Tuan di atas semua tuan.

Doa: Bapa yang maha baik, dengan apakah kubalas kasih setia-Mu yang selalu mengiringi hidup kami orang yang berdosa ini, selain dengan puji dan sembah-Mu, Allahku kudus, serta mengasihi Yesus putra-Mu dengan menghidupi firman-Nya yang bersama dengan Roh Kudus hidup dan berkuasa selama-lamanya. Amin. (MM)