Fondasi Yang Kokoh

Renungan 27 Juni 2019

Bacaan: Kej. 16:1-12,15-16Mzm. 106:1-2,3-4a,4b-5Mat. 7:21-29

BANGUNAN DI ATAS FONDASI YANG KOKOH

Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. (Mat. 7:25)

Di masa kemajuan alat komunikasi, seakan tidak ada lagi privasi yang bisa membuat orang hidup nyaman dan aman dari penilaian orang banyak. Kekaguman terungkap melalui komentar-komentar positif dari kelompok orang yang di pihaknya, caci maki, cibiran dan sindiran diungkap terang-terangan oleh kelompok oposisi. Sedangkan yang netral, mengikuti arah angin yang menguntungkan.

Situasi ini pasti mengganggu banyak pihak, apalagi ketika kebenaran berita sudah tidak dapat dipertanggungjawabkan dan mengakibatkan kerusakan dalam berbagai hal, permusuhan, perpecahan, pelecehan martabat manusia, kebingungan, ketakutan, kecemasan dan yang terparah adalah kebutaan dan ketulian terhadap kebenaran.

Bagaimana agar kita tidak terkena akibat buruk itu?

Yesus memberikan jawaban sangat jelas, bahwa kelak apabila Dia datang untuk kedua kalinya, pada hari penghakiman, yang akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga adalah barangsiapa yang melakukan kehendak Bapa di Sorga.

Mari kita renungkan:

Melakukan kehendak Bapa, harus dimulai dari kehidupan di dunia, dengan semakin mencintai kebenaran – menggelutinya dan menghidupinya.
Lawan semua ketidakbenaran yang berkecamuk saat ini, agar tidak terpengaruh atau terseret di dalamnya serta mengalami akibat buruknya. Lawanlah dengan kebenaran firman Tuhan (Yoh. 17:17). Jika mulai ragu, pikirkanlah apa sebenarnya kehendak Tuhan dan lakukanlah. Maka hidup kita tidak akan goyah dan roboh.
Mengambil komitmen: tidak akan pernah menjadi agen penyalur ketidakbenaran baik dalam kata maupun tindakan.
Tolok ukurnya adalah bertanya kepada diri sendiri. 

“Apakah hal ini memberikan damai, kekuatan iman-pengaharapan-kasih sehingga membuat aku dan orang lain semakin mengenal Allah dan kehendak-Nya?”

Saudaraku, kerinduan apa yang saat ini timbul dalam hati setelah merenungkan Injil Matius 7:21-29 ini?

Marilah kita persembahkan kepada Tuhan dalam doa.

Terima kasih Bapa, Dikau menganugerahkan Roh Kudus  sehingga kami mampu mengenal kehendak-Mu melalui firman, ajaran Gereja dan tradisi para rasul.

Kami persembahkan hidup dan kerinduan menjadi pembawa kebenaran-Mu agar setiap orang dibantu membangun hidupnya di atas dasar “batu yang kokoh” yaitu Sabda Kebenaran.  Demi Yesus Tuhan kami. Amin. (ips)