Sudahkah Kita Berubah?

Renungan Kamis 16 Mei 2019

Bacaan: Kis. 13:13-25; Mzm. 89:2-3.21-22.25.27; Yoh. 13:16-20

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. (Yoh. 13:16)

Merenungkan sabda Tuhan di dalam Yoh 13:16-20, berkaitan dengan peristiwa pembasuhan kaki para murid, penghianatan Yudas, dan tentang tugas perutusan para murid, saya diteguhkan kembali tentang makna tugas pelayanan seorang murid Yesus yang lebih mendalam. Bahwa melakukan tugas pelayanan bukan sekedar mencari popularitas, kepuasan diri, prestasi, kehebatan  ataupun pencarian diri yang pada ujungnya adalah kesombongan, merasa hebat, sukses dalam pelayanan, merasa dipakai Tuhan lebih dari orang lain, yang mengkristal menjadi memandang rendah orang lain.

Hal ini menyebabkan inti pelayanan yang sesungguhnya, yakni membawa Kristus ke dalam dunia, tertutupi oleh sikap membawa diri sendiri ke dalam dunia, yang tanpa sadar terjadi karena semakin sering melakukan tugas pelayanan dan mendapat respon yang baik dari audience, mendapat pujian, banyak yang bertobat, dan banyak hal-hal lain yang  seakan-akan buah pelayanan yang terjadi adalah berkat kehebatan dirinya.

Tugas perutusan seorang murid Yesus atau pewarta adalah menghadirkan Yesus ke tengah dunia. Bukan sekedar berbicara tentang Alkitab atau tentang Yesus saja, melainkan bagaimana kehidupan kita dapat menampakkan sosok Yesus, memancarkan Yesus ditengah kehidupan sehari-hari.

Di dalam Yoh 13:16, Tuhan Yesus menyatakan siapa diri-Nya, yang harus menjadi sikap dasar batiniah para murid di dalam menjalankan tugas pelayanan, yakni kerendahan hati dan ketaatan-Nya terhadap kehendak Bapa. Yesus yang adalah Allah, berkenan menjadi seorang hamba melalui peristiwa pembasuhan kaki para murid, maka demikian juga para murid wajib melakukan sikap batiniah dan lahiriah seperti yang Yesus sudah lakukan yakni sikap merendahkan diri.

Ketaatan Yesus kepada Bapa yang mengutus-Nya juga dinyatakan melalui pengorbanan-Nya sampai wafat di kayu salib, meskipun sesuai hakekatnya sebagai manusia, Yesus juga mengalami ketakutan, kekuatiran, sampai berpeluh darah pada malam menjelang sengsara-Nya. Namun Dia tetap taat kepada kehendak Bapa, yakni menjalani seluruh proses perutusan-Nya (sengsara, wafat dan bangkit kembali). Buah pengorbanan-Nya bukan oleh karena diri-Nya, kehebatan-Nya, keberhasilan-Nya, melainkan itulah yang dikehendaki Bapa. Taat berarti menjalankan tugas pelayanan sesuai kehendak Bapa yang mengutus, bukan soal suka atau tidak suka (Yoh. 13:17).

Yesus pun menyatakan bahwa Dia akan dikhianati oleh salah seorang dari para murid-Nya. Demikian pula yang akan dialami oleh para murid-Nya pada masa itu, dan masa selanjutnya karena tugas pelayanan akan terus berjalan selamanya sampai akhir jaman, demi keselamatan umat manusia (Yoh 13:18-19).

Buah dari salib adalah kasih. Seluruh proses sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus telah menyatakan betapa besar kasih Allah kepada manusia, kasih yang tak terbatas. Maka Yesus pun menyampaikan kepada para murid-Nya bahwa tidak semua orang akan menerima mereka. Tetapi bagi yang menerima para murid berarti menerima Yesus, dan barangsiapa menerima Yesus mereka juga menerima Bapa, karena Yesus dan Bapa adalah satu (Yoh. 17:21).

Menerima yang berarti mau berubah dari kehidupan lama ke kehidupan yang baru. Bukan sekedar ya dan amin ikut Yesus, tetapi sejauh mana kita mau berubah menjadi manusia baru, manusia dengan karakter Kristus, seperti sabda Yesus kepada Nikodemus bahwa dia harus dilahirkan kembali dari air dan Roh supaya dapat masuk ke dalam kerajaan Allah (Yoh. 3:5-6).

Doa: Ya Yesus, berikanlah kepada kami para pelayan-Mu kesadaran untuk dapat menjalankan tugas pelayanan dengan rendah hati dan ketaatan kepada kehendak Bapa, bukan karena suka atau tidak suka, dan bukan pula untuk mencari popularitas diri. Teguhkanlah kami sebagai murid yang telah lahir baru, untuk selalu memproses diri menjadi semakin sempurna, agar dapat menampilkan diri sebagai Engkau di tengah dunia ini. Amin.

Tuhan memberkati.

ANS