Sebab Tuhan Itu Baik

Renungan Minggu 12 Mei 2019, Hari Minggu Paskah IV, Hari Minggu Panggilan

Bacaan: Kis. 13:14,43-52Mzm. 100:2,3,5Why. 7:9,14b-17Yoh. 10:27-30

Sebab Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun. (Mzm. 100:5)

Tuhan Yesus mengajar kita untuk memanggil Allah sebagai Bapa. Pernahkah kita bertanya mengapa. Saya percaya supaya kita manusia bisa menangkap gambaran Allah secara sederhana yang bisa ditangkap akal budi manusia, bahwa hubungan manusia dengan Allah bisa digambarkan sebagai hubungan orang tua dengan anaknya yaitu sebagai hubungan bapak dengan anak.

Di waktu manusia masih kecil hidupnya sangat bergantung pada kedua orang tuanya. Demikian juga Allah Bapa ingin agar kita anak-anak-Nya bergantung penuh kepada-Nya (Yoh. 15:5), percaya kepada-Nya, mendengarkan-Nya dan mengikuti-Nya ke mana Dia pergi agar kita selamat, bahagia dan hidup berkelimpahan.

Tetapi manusia lebih sering mengandalkan dirinya sendiri, hidup menurut pikirannya sendiri sehingga hidup tidak seperti yang Allah Bapa inginkan. Kita sering tersesat, terjebak oleh keinginan-keinginan duniawi dan lain sebagainya yang membuat kita menuju kepada maut.

Saat saya masih kecil saya sangat bergantung pada orang tua saya. Percaya kepada mereka bahwa mereka menginginkan yang terbaik bagi saya. Percaya bahwa setiap kali saya ada masalah saya bisa datang kepada mereka. Bahkan ketika saya nakal dan mereka marah dan memukul saya, tetap saja saya tidak meninggalkan mereka karena saya tahu kemarahan mereka tidak selamanya karena mereka orang tua saya. Saya selalu datang lagi kepada mereka dengan berbagai tingkah polah anak kecil. Dan mereka selalu menerima saya seperti tidak pernah mengingat kenakalan saya. Orang tua saya juga selalu mengajarkan kejujuran dan moral yang baik, sopan santun, hormat pada orang tua dan orang yang lebih tua, disiplin dan lainnya.

Tetapi berjalan waktu saya menjadi dewasa, saya mulai mempunyai keinginan-keingingan sendiri yang akhirnya sering tidak berjalan pada apa yang diajarkan oleh orang tua saya. Karena pergaulan dan tuntutan dunia dan karena ego saya sendiri, saya berusaha menjalani semua sendiri, berusaha mandiri, dan mengandalkan diri sendiri. Merasa semua yang saya pikirkan adalah benar dan baik buat saya. Sehingga akhirnya saya jatuh ke dalam berbagai dosa. Hidup tidak sebagai orang Kristiani yang sesungguhnya, bahkan hidup tidak seperti yang diajarkan orang tua saya.

Tetapi Allah Bapa memanggil saya kembali, menolong saya lepas dari keterikatan dosa yang saya tahu tanpa bantuan-Nya saya tidak dapat lepas. Dan mulai mengajarkan jalan-jalan-Nya melalui doa dan firman-Nya, serta penyertaan dan pertolongan-Nya yang nyata dalam setiap permasalahan dan pencobaan hidup yang saya alami.

Pertanyaannya adalah untuk apa semua itu. Supaya saya menjadi percaya, bahwa Dia ada, nyata dan Dia adalah Bapa yang sungguh baik.

Rasa percaya bagaimana yang Allah inginkan pada kita kepada-Nya? Yaitu seperti yang tertulis di Mazmur 100:5, Sebab Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.

Sering kita katakan bahwa kita sungguh percaya kepada-Nya. Mari kita renungkan kembali.

Sejauh mana percaya kita kepada-Nya?
Apakah kita percaya dengan sungguh bahwa Dia Bapa yang baik?
Bahwa kasih setia-Nya untuk selama-lama-Nya?

Saat saya masuk dalam pencobaan, iman saya jatuh bangun. Saya berusaha keras untuk terus percaya tetapi hanya Tuhan yang tahu rasa percaya saya kepada-Nya sampai mana.

Dia akan terus memproses rasa percaya saya dan iman saya sampai saya benar-benar percaya bahwa Dia sungguh Allah Bapa yang sungguh baik. Dia hanya mau yang terbaik bagi saya.

Doa: Tuhan Yesus beri saya kekuatan agar saya dapat melewati tantangan-tantangan hidup yang Kau izinkan terjadi dalam hidupku. Mampukan saya untuk selalu dapat melihat penyertaan-Mu dalam setiap tantangan tersebut sampai saya benar-benar percaya sepenuh hati seturut yang Kau inginkan, percaya bahwa Engkau adalah Allah yang sungguh amat baik. Bahwa kasih setia-Mu untuk selama-lamanya dan kesetiaan-Mu tetap bagiku turun temurun. Amin. (VSH)