Roti Hidup

Renungan Kamis 9 Mei 2019

Bacaan: Kis. 8:26-40Mzm. 66:8-9,16-17,20Yoh. 6:44-51

Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. (Yoh. 6:44)

Datang kepada Yesus berarti menjadi sahabat-sahabat Yesus alias anak-anak Allah, yaitu orang yang senantiasa  hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah dalam hidup sehari-hari, hidup baik dan berbudi pekerti luhur. Apa yang dimaksudkan oleh Yesus tak mungkin datang kepada-Nya jika tidak ditarik oleh Bapa, antara lain berarti kita tak mungkin hidup baik dan berbudi pekerti luhur jika tidak menerima aneka macam bentuk pengajaran Tuhan melalui orang tua, guru/pendidik atau saudara-saudari kita. Hemat saya masing-masing dari kita dapat hidup seperti saat ini karena kita diajar atau dibina oleh orang tua, guru/pendidik atau saudara-saudari kita, dan kita akan semakin baik dan berbudi pekerti luhur jika kita senantiasa siap sedia untuk diajar terus menerus.

Maka marilah kita dengan rendah hati membuka diri sepenuhnya terhadap aneka macam pengajaran, misalnya yang bisa kita dapat dari Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP), Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP), Persekutuan Doa, pendalaman kitab suci dan lain-lain. Ada kemungkinan kita merasa sakit ketika sedang menerima pengajaran, dan kiranya hal itu wajar adanya. Tumbuh berkembang dalam iman, hidup baik dan berbudi pekerti luhur memang membutuhkan perjuangan dan pengorbanan alias kerja keras. Hendaknya sedini mungkin anak-anak dibina untuk memiliki sikap mental ‘ongoing formation/education’ atau belajar terus menerus, sepanjang hayat, dan tentu saja dengan teladan konkret dari para orang tua di rumah maupun para guru/pendidik di sekolah-sekolah. Berbagai pengalaman hidup, entah yang menyenangkan atau menyakitkan hendaknya dihayati sebagai pembelajaran, maka hendaknya dibina sikap refleksif atas aneka pengalaman hidup.

Bacaan injil hari ini berbicara mengenai Kristus sebagai “roti kehidupan’ di dalam Ekaristi Kudus. Ia adalah roti termaksud karena Dia memberikan tubuh-Nya di atas kayu salib bagi kehidupan dunia. Kristus adalah “roti yang hidup” atau “roti kehidupan”, yang memberi dan menopang kehidupan Ilahi dalam diri kita dan membuatnya bertumbuh. Ia turun dari surga dalam inkarnasi-Nya. Siapa saja yang memakan roti ini hidup selamanya. Dia adalah roti yang hidup karena Dia memberikan tubuh-Nya sendiri di atas kayu salib bagi kehidupan dunia. Tidak ada Ekaristi tanpa kematian Kristus.

Siapa saja yang menerima Tuhan Yesus Kristus dalam Ekaristi Kudus mempunyai hidup yang kekal, bahkan sekarang juga. Orang sedemikian akan hidup selama-lamanya (Yoh. 6:5:58); dengan perkataan lain dia akan bangkit juga dari kematian, karena kita semua akan mengalami kematian. Kehidupan yang diberikan oleh Yesus kepada kita ini adalah kehidupan yang diterima dari Bapa, kehidupan Ilahi Allah sendiri.

Sebagaimana kehidupan manusia yang harus bertumbuh, maka kehidupan Ilahi ini pun harus bertumbuh. Kita makan agar hidup manusia kita dapat bertumbuh, demikian pula kita harus makan makanan yang diberikan Kristus kepada kita agar dapat menjadi orang-orang Kristiani yang kuat. Maka, bukan sesuatu hal yang kebetulan apabila Yesus menggunakan lambang-lambang makanan/minuman (roti dan anggur), dengan mana Dia datang kepada kita. Dia ingin menyakinkan kita tentang realitas kehidupan Ilahi ini yang harus bertumbuh dengan makan “roti kehidupan” yang adalah diri-Nya sendiri yaitu daging Yesus sendiri.

Doa: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau memberi makan dan menguatkanku dengan tubuh dan darah-Mu sendiri. Terima kasih, ya Tuhan, karena Engkau menghilangkan rasa laparku. Terangilah jalanku sementara aku membawa hidup-Mu sendiri kepada orang-orang lain. Amin. (JHJ)