Pelajaran Sang Guru

Renungan Sabtu 25 Mei 2019

Bacaan: Kis. 16:1-10Mzm. 100:1-2,3,5Yoh. 15:18-21

Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. (Yoh. 15:18)

Saya teringat ketika masih menjadi murid di SMU, saya lemah dalam pelajaran hafalan. Namun saya tidak mau kalau nilai saya jatuh gara-gara saya tidak bisa menghafal. Untuk menyiasati agar saya memahami pelajaran hafalan, ada beberapa tips yang saya lakukan.

Pertama, sehari sebelum pelajaran, saya membaca dahulu, kemudian mencatat hal-hal penting yang diterangkan sang guru ketika mengajar di kelas, lalu membuat rangkuman di rumah. Bahkan teman-teman sering meminjam rangkuman saya.

Kedua, saya menajamkan pendengaran saya yaitu saat istirahat kelas, saya mencari dan mendekati teman-teman yang belajar hafalan dengan membaca keras maupun teman-teman yang melakukan tanya jawab. Artinya seorang murid harus belajar terus menerus, berusaha semaksimal mungkin untuk memahami apa yang dikehendaki gurunya, kekuatan-kekuatan apa yang diberikan gurunya, agar murid menjadi tahan uji, tangguh dan keluar sebagai pemenang.

Saat ini, tempat kita bersekolah ada di keluarga dan masyarakat. Pertanyaannya, mengapa dunia membenci kita? Karena dunia tidak mengenal Allah Bapa (Yoh. 15: 21). Merenungkan firman Tuhan yang diwartakan Yohanes hari ini, Tuhan Yesus menegaskan mengenai pengalaman nyata yang telah dialami-Nya. Bagi seorang murid, ada dua pelajaran yang bisa membentuk karakter murid seperti karakter Kristus.

Pertama, ketika murid mengalami hal yang sama: yaitu dibenci, dikucilkan, atau bahkan ditolak, murid tidak kecewa atau putus asa, melainkan mendapatkan kekuatan karena Sang Guru sudah lebih dahulu mengalaminya.

Kedua, murid bersyukur karena melalui peristiwa yang sama, murid boleh belajar kerendahan hati, mengingat sering terjadi seorang murid lupa akan jati dirinya sehingga memperlakukan orang lain tidak dengan kasih Kristus.

Belajar dari pengalaman seperti itu, mari kita mewartakan dan melakukan pelajaran dari Sang Guru kepada dunia. Kehadiran kita sebagai murid hendaknya menjadi cermin yang memantulkan kasih Kristus, sehingga dunia boleh mengenal Kristus. Seperti Paulus dan Silas, yang oleh Roh Kudus diberi kesempatan untuk memberitakan Injil ke Makedonia (Kis. 16:10).

Doa: Syukur dan terima kasih Tuhan, Engkau baik, Engkau memberi teladan dan kekuatan bagi kami yaitu ketika kami dibenci dunia. Kami tetap beribadah kepada-Mu dengan sukacita dan sorak sorai, karena hanya Engkaulah Gembala kami dan kami domba-domba-Mu. Kesetiaan-Mu tetap turun temurun sampai selama-lamanya. Amin. (ECMW)