Mukjizat Ekaristi

Renungan Jumat 10 Mei 2019

Bacaan: Kis. 9:1-20Mzm. 117:1,2Yoh. 6:52-59

Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. (Yoh. 6:56)

Pengalaman Martha Robin yang hidup selama 50 tahun tanpa makan dan minum hanyalah sebuah kisah dari sekian banyaknya pengalaman nyata tentang mukjizat Ekaristi. Betapa ajaibnya Sang Roti Hidup.

Martha Robin (1902- 1981), seorang Katolik yang sangat taat dan beriman. Ia lahir 13 Maret 1902 di Chateauneuf-de-Galaure, Perancis, di desa kecil Drome, di lembah Rhone Valley. Pada usia 16 tahun ia jatuh sakit yang membuatnya koma 20 bulan. Setelah sadar, penyakitnya tidaklah membaik, malahan memburuk, yang membuatnya tidak dapat menggerakkan kakinya. Pada 2 Januari 1929 sampai wafatnya 6 February 1981, ia lumpuh, tidak dapat menggerakkan kaki, lengan, bahu dan tenggorokannya, sehingga tidak dapat menelan, makan dan minum. Kondisinya ini kemudian diperiksa seorang profesor dari fakultas kedokteran di Lyons, Dr. Jan Dechaume, adalah suatu misteri tersendiri bahwa Martha Robin ini dapat hidup tanpa makanan selama 50 tahun, kecuali dari Ekaristi.

Suatu hari seorang filsuf atheis dan dokter bernama Paul Louis Chouchoud mengunjunginya, untuk memeriksanya. Gereja Katolik tidak menghalanginya, dan ia mendapat izin dari uskup setempat untuk menyelidiki keadaan Martha Robin. Dr. Chouchoud mengkonfirmasi bahwa Martha mengalami lumpuh/paralysis total sehingga ia bahkan tidak dapat menelan air walaupun hanya setetes. Yang ajaib adalah apa yang dituliskan oleh Chouchoud, pada saat Martha menerima Komuni Kudus. Dia tidak dapat menelan ‘Hosti’ tersebut, sebab otot tenggorokannya tidak dapat bergerak. Namun Hosti itu lewat secara misterius melalui bibirnya yang tertutup dan menuju saluran kerongkongannya. Martha tidak dapat makan atau minum apapun, karena ketidakmampuannya menelan dan membuka mulutnya, namun ia tidak dapat hidup tanpa Ekaristi.

Maka bagi Martha, menerima Ekaristi adalah sesuatu yang terpenting. Ia menerima Komuni sekali seminggu pada hari Selasa (dan pada hari Rabu saat menjelang wafatnya) yang didahului dengan Sakramen Pengakuan Dosa. Setelah itu ia mengucapkan doa penyerahan dirinya kepada Tuhan Yesus yang dikarangnya sendiri pada tahun 1925. Setelah menerima Komuni, ia mengucapkan syukur dan sukacita dalam keheningan dan tenggelam dalam keadaan ekstasi dan wajahnya bersinar dengan keindahan yang tak terukur.

Mereka dalam komunitas sains, mengungkapkan keheranan bahwa sejak masa kelumpuhannya lebih dari 50 tahun, Martha tidak makan dan minum (dan tidak tidur juga), namun organ dalam tubuhnya masih dapat berfungsi. Ekaristi merupakan satu-satunya makanan yang menguatkan bagi Martha. Dengan mukjizat ini Yesus ingin menunjukkan kekuatan Ekaristi yang luar biasa, jika diterima dengan iman yang teguh.

Gereja Katolik tidak pernah melarang diperiksanya keadaan atau bukti-bukti yang menunjukkan tentang keajaiban Ekaristi. Sebab jika itu rekayasa, akan terlihat dengan sendirinya, namun jika itu fakta, maka juga akan bersinar dengan nyata. “Truth will speak for itself“.

Semoga kita yang percaya akan kehadiran Yesus dalam Ekaristi, dibimbing Roh Kudus sehingga semakin rindu dan menghayati-Nya dan tidak terjebak dengan rutinitas mingguan.

Tuhan memberkati kita semua. (LNO)