Berbuah Lebat

Renungan Rabu 22 Mei 2019

Bacaan: Kis. 15:1-6Mzm. 122:1-2,3-4a,4b-5Yoh. 15:1-8

Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. (Yoh. 15:2)

“Percuma ke gereja. Lihat saja yang datang ke gereja orang-orangnya tidak peduli orang lain, jahat ke pembantunya, tidak mau beri pinjaman, suka pamer dan sombong. Katanya punya jabatan ini itu tapi pada waktu dimintai bantuan malah lari. Suka pilih-pilih kalau pelayanan. Katanya sekolah Katolik tapi kok mahal… bla bla bla.” Demikian omelan seseorang yang kecewa dan patah hati dengan Gereja Katolik dan tidak mau lagi pergi ke gereja maupun ikut kegiatan gereja.

Memang tugas kita untuk melakukan penginjilan bagi orang yang demikian. Kenyataan menunjukkan bahwa ia belum berjumpa dengan orang-orang Kristiani yang berbuah. Sehingga orang-orang Kristiani tersebut justru menjadi batu sandungan bagi orang lain.

Sudahkah saya berbuah? Mari kita hening sejenak dan bertanya pada diri sendiri siapakah orang-orang yang sudah merasakan buah yang saya hasilkan.

Untuk bisa berbuah lebat maka orang Kristiani dituntut untuk terus menerus menyangkal diri dan memikul salib. Kita harus berani meninggalkan semua kelekatan dan zona nyaman yang membuat kita mandul dan tidak berbuah, yang membuat hidup kita tidak berarti bagi banyak orang bahkan hidup kita dijauhi oleh banyak orang karena mereka tidak tahan dengan gaya hidup yang hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya.

Apakah kita acuh tak acuh dan mendiamkan saja konflik-konflik yang terjadi dalam komunitas kita? Kita harus memaksa diri untuk membicarakan, menyelesaikan, dan mendiskusikannya dengan rendah hati, dengan tidak memaksakan kehendak, dan cara berpikir yang salah juga harus diperbarui (Rm. 12:2). Membiarkan masalah menjadi berlarut-larut bukan merupakan buah kebijaksanaan, namun justru akan membuat banyak pihak tinggal dalam kepahitan dan akhirnya meninggalkan komunitas.

Kadang orang Kristiani sudah merasa puas dengan penyangkalan dirinya, sudah merasa memikul salib sehingga tidak menunjukkan buah yang nyata dan sebaliknya malah meninggalkan citra yang buruk bagi orang lain.

Marilah kita selalu mengandalkan Tuhan dan bukannya malah menjadi provokator. Kalau ada berita viral yang negatif maka kita ikut-ikutan memviralkannya. Tidak merasa bersalah sedikit pun. Justru merasa perbuatannya benar. Kalau kita menunjuk seseorang dengan satu jari telunjuk kita lupa ada jari-jari kita lainnya menunjuk pada diri kita sendiri. “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh. 8:7).

Mari terus bertanya, “Buah apa yang sudah saya hasilkan dan buah apa yang mau saya hasilkan?”

Tuhan memberkati. (PPT)