Takut Atau Cinta?

Renungan Jumat 19 April 2019

Bacaan: Yes. 52:13-53:12;Mzm. 31:2.6.12-13.15-16.17.25;Ibr. 4:14-16.5:7-9;Yoh. 18:1-19:42

Maka Petrus menyangkalnya pula dan ketika itu berkokoklah ayam. (Yoh. 18:27)

Ada sepasang suami istri yang sudah lanjut usia namun tetap terlihat mesra dan harmonis sampai dengan ulang tahun perkawinan emas mereka. Pasangan ini menjadi teladan bagi sekelilingnya terutama pasangan suami istri lain. Lalu seorang pemuda  bertanya, bagaimana cara  menjaga kemesraan sampai perkawinan emas ini. Si bapak bercerita tentang satu kisah di awal pernikahan mereka. Suatu pagi ibu hendak berjalan jalan di pegunungan dan naik kuda yang baru dibelinya, ditengah perjalanan kuda tersebut menjatuhkan si ibu namun si ibu tertawa, mengelus elus dan menepuk nepuk kuda tersebut sambil mengatakan “satu kali”. Esok paginya si ibu kembali menunggang kuda tersebut namun si kuda yang nakal tersebut kembali menjatuhkan si ibu. Si ibu pun dengan penuh kasih sayang menepuk kuda sambil mengatakan “dua kali”. Dengan antusias, esok paginya si ibu melakukan hal yang sama dan kuda yang bandel tersebut terus mencobai si ibu dan ibu tersebut terjatuh lagi. Kali ini ketika bangkit, si ibu tersenyum seperti biasanya dan mengatakan “tiga kali”. Namun kali ini dia mengeluarkan pistol dari tasnya dan menembak kuda tersebut. Nah belajar dari peristiwa itu  si bapak mengatakan bahwa ia tidak akan berani membuat si ibu mengatakan “satu kali”, “dua kali” apalagi “tiga kali”.

Seringkali cinta manusia, yang  diwakili oleh pasangan diatas, diwarnai dengan egoisme, kesombongan, ketidaksabaran, sulit untuk memaafkan. Suatu cinta yang menuntut, bersyarat dan bahkan mengancam. Tidak heran jika akhirnya cinta yang diberikan adalah cinta berdasarkan kepalsuan dan ketakutan. 

Bagaimana dengan Petrus yang menyangkal Yesus sampai tiga kali? Disinilah letak perbedaan antara cinta manusia dan Yesus. Ketika Petrus menyangkal Yesus untuk yang ketiga kalinya, terdengar  “..kukuruyuuuk..” lalu Petruspun jatuh tersungkur. Bukan fisiknya yang mati, namun hatinya yang penakut.  Petrus terjatuh dengan penyesalan dan kepahitan yang tak terperikan menyadari bahwa ia telah menyakiti dan meninggalkan Yesus. Terlebih lagi beberapa jam setelah penyangkalannya, ia menyaksikan Yesus tergantung di kayu salib.

Yesus disalib untuk menebus dosa manusia sekaligus mengajar  seluruh murid-Nya, Petrus dan kita semua, dalam menjalani hidup ini. Disamping itu, mengutip perkataan St. Thomas Aquinas, penyaliban Yesus juga menjadi keteladanan akan lima hal:

  1. Kemurahan Hati. Yesus rela menyerahkan hidup-Nya demi kita, makhluk ciptaan yang sangat dikasihi-Nya. Tidak ada kasih yang lebih besar dari ini.
  2. Kesabaran.  Yesus dengan sabar menanggung semua penderitaan dan sengsara untuk hal-hal yang sebenarnya dapat dihindari-Nya, namun Dia tidak menghindari-Nya.
  3. Kerendahan hati. Meskipun Dia adalah Tuhan, namun Dia rela diadili oleh Pontius Pilatus.
  4. Kepatuhan. Manusia jatuh ke dalam dosa karena ketidakpatuhan satu orang. Manusia juga diselamatkan karena kepatuhan Satu Orang.
  5. Kejijikan terhadap hal-hal duniawi. Di kayu salib Dia tergantung, telanjang, diejek dan dicemooh, diludahi, dipukuli, dimahkotai duri, dan akhirnya diberi minum anggur asam. Oleh karena itu janganlah sampai kita melekat pada pakaian bagus serta kekayaan (karena “mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka”), janganlah mencari-cari kehormatan (karena Dia tahu artinya dan mengalami sendiri penghinaan dan olok-olok dan juga penyiksaan), janganlah mengejar status terhormat (karena “mereka telah membuat mahkota dari duri dan memasangnya di kepala-Ku”), janganlah mencari makanan yang lezat (karena  “untuk memuaskan rasa haus-Ku, mereka memberikan kepadaku cuka untuk diminum”).

Menyadari betapa besar kasih Yesus padanya, Petrus bangkit dan berubah menjadi batu karang seperti nama yang diberikan Yesus kepadanya. Sanggupkah kita mengikuti Dia bukan dengan ketakutan namun dengan penuh cinta?

Doa: Ya Yesus Kristus, hari ini kami berdiri dibawah kaki salib-Mu dan memandang-Mu menderita diatas salib demi keselamatan kami. Mampukan kami untuk menerima cinta-Mu serta membalas cinta-Mu dan hidup seturut model  teladan yang Kau ajarkan, sehingga pada akhirnya kami pulang, menghadap, menatap dan menyapa-Mu: “Ya Tuhan-ku dan Allah-ku”.[LSL]