Setia Janji

Renungan Kamis 11 April 2019

Bacaan: Kej. 17:3-9; Mzm. 105:4-5,6-7,8-9; Yoh. 8:51-59

Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. (Kej. 17:4)

Perjanjian adalah kesepakatan antara dua pihak tentang suatu hal yang oleh karenanya kedua pihak tersebut menjadi terikat untuk menaatinya.

Ketika saya menjadi tim sukses calon kepala desa, bersama anggota tim saya membuat visi misi yang akan dijadikan bahan kampanye. Isinya tentu tawaran program pembangunan bagi kemajuan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lahir dan batin.

Saya masih ingat ketika calon tersebut dalam menyampaikan visi misinya dimulai dengan kata-kata, “Kalau saya nanti dipercaya untuk memegang amanat rakyat terpilih menjadi kepala desa, saya akan….” Tentu dengan janji yang disampaikan oleh pihak calon itu diharapkan akan menarik hati masyarakat untuk memilihnya. Maka rakyat akan memilih dia karena janji yang terucap lewat visi misi tersebut.

Jadi ada dua pihak yang mengikatkan diri yaitu si calon kepala desa di satu pihak dengan rakyat pemilih di lain pihak. Setelah rakyat memilihnya dan si calon berhasil jadi kepala desa, maka biasanya dia akan ditagih janjinya selama dia menjabat. Kalau janji itu ditepati maka pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa itu pasti akan meningkat. Tetapi jika tidak, maka rakyat akan menuntut dengan berbagai cara.

Bacaan hari ini, Kejadian 17:3-9, dalam konteks rencana Allah menyelamatkan manusia, dikisahkan perjanjian antara Allah dengan Abraham. Allah sendiri secara langsung menyatakan perjanjian-Nya terhadap Abraham, “Dari pihak-Ku inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa….. Karena itu namamu bukan lagi Abram melainkan Abraham karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa…. Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak, …dari padamu akan berasal raja-raja. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dengan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan menjadi Allah keturunanmu. Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun.”

Jelas bahwa yang punya inisiatif awal dalam perjanjian ini adalah Allah sendiri di satu pihak yang selanjutnya mengikat Abraham dan keturunannya di lain pihak.

Dari pihak Allah, selain telah disebut terdahulu, Allah juga menjanjikan bahwa kaum di muka bumi ini akan mendapat berkat melalui keturunan langsung Abraham (Kej. 22:18). Janji yang satu ini mengarah kepada kedatangan Mesias/Kristus yang akan lahir dari keturunan Abraham (Gal. 3:16) yang akan menggenapi seluruh janji Allah.

Siapa setia janji dan siapa ingkar janji? Allah, Abraham ataukah keturunan Abraham?

1. Allah
Allah adalah pihak yang selalu setia. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya. (Mzm. 105:7).

2. Abraham
Ia adalah orang yang dipilih Allah dan sudah teruji kesetiaannya dengan janji yang telah diikatnya dengan Allah. Dia taat untuk disunat termasuk seluruh laki-laki seisi rumahnya (Kej. 17). Dia taat untuk mengorbankan Iskak anak yang dikasihinya. (Kej. 22).

3. Keturunan Abraham
Keturunan Abraham bisa menunjuk bangsa terpilih Israel atau Yahudi sebagai keturunan biologis Abraham. Tetapi kita semua orang beriman, meskipun bukan Yahudi, disebut juga anak-anak Abraham (Gal. 3:7). Pihak yang disebut terakhir ini, baik Yahudi maupun bukan Yahudi,  termasuk kita, berkali-kali tidak setia, ingkar janji. Berulang-ulang jatuh ke dalam dosa.

Sejak awal mula Allah menghendaki manusia bahagia, namun begitu manusia jatuh ke dalam dosa maka upahnya adalah maut (Rom. 6:23). Dengan kasih dan kesetiaan-Nya yang tiada batas, Allah mengutus putera tunggal-Nya Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia dengan cara yang paling hina yaitu mati di kayu salib.

Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu: Sungguh, barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selamanya.” (Yoh. 8:51). Jika kita menuruti firman Tuhan, berarti kita setia janji dan akan memperoleh hidup kekal.

Mari kita selalu pegang teguh janji baptis kita dan menjadi pelaku-pelaku firman, supaya kita menjadi manusia yang setia janji terhadap Allah, maka upah kita adalah kebahagiaan abadi dalam hidup kekal di sorga. Kita sepenuhnya percaya bahwa Allah akan selalu ingat dengan janji-Nya.

Doa: Ya Allah yang Maha Kasih, begitu besar kasih-Mu kepada kami. Meskipun seringkali kami ingkar janji dan jatuh ke dalam dosa, Engkau tetap membuka hati-Mu untuk menerima dan mengampuni. Mampukan kami untuk menjadi pelaku firman-Mu, supaya keselamatan dapat kami peroleh dan berkat-Mu diterima oleh umat manusia di seluruh bumi. Demi Kristus Putra-Mu, Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin. (MYM)