Menyadari Kehadiran Yesus

Renungan Rabu 24 April 2019

Bacaan: Kis. 3:1-10; Mzm. 105:1-2.3-4.6-7.8-9; Luk. 24:13-35

Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. (Luk 24:31)

Injil hari ini mengisahkan perjalanan dua orang murid Yesus meninggalkan Yerusalem menuju ke Emaus. Sepertinya kedua orang murid ini mau meninggalkan dan menanggalkan segala harapan mereka akan Mesias yang dijanjikan, seiring dengan kematian Tuhan Yesus di kayu salib.

Di sepanjang perjalanan mereka bercakap-cakap dan berdiskusi tentang peristiwa demi peristiwa yang telah terjadi dan nampaknya mereka sedang mengalami kekecewaan batin sehingga mata hati dan penglihatan mereka seolah tertutup kegelapan. Mereka tidak menyadari kehadiran Pribadi Tuhan Yesus yang datang menyapa dan berjalan beserta mereka. Pandangan mereka seolah terhalang oleh kekecewaan dan ketidakpercayaan, sekalipun mereka sudah mendengar kesaksian dari beberapa murid perempuan Yesus yang melaporkan kubur Yesus yang telah kosong dan  juga menyampaikan pernyataan dari kedua malaikat bahwa Yesus telah bangkit dari kematian.

Raut wajah mereka yang muram nampak jelas terlihat saat Yesus mempertanyakan apa yang sedang mereka perbincangkan dan Kleopas balik bertanya, apakah Ia satu-satunya penziarah yang tidak mengetahui apa yang terjadi hari-hari itu. Kemudian mereka menceritakan pudarnya tumpuan harapan mereka pada Yesus, karena Ia sudah tidak ada karena sudah dihukum mati dan disalibkan.

Lewat teguran Yesus kepada kedua orang murid ini (Luk. 24:25), kita dibawa kembali pada kesadaran lewat apa yang sudah pernah dinubuatkan oleh para nabi bahwa Yesus datang ke dunia untuk menderita agar Ia bisa mencapai kemuliaan-Nya dalam misi menyelamatkan kita seluruh umat manusia.

Seperti mereka berdua, kita juga diajak agar bersedia berdialog dengan sabda-Nya sendiri dan membiarkan pikiran kita dijernihkan kembali. Ia selalu menyertai perjalanan hidup kita di dalam berbagai macam kekecewaan batin yang sebenarnya berasal dari gambaran keliru mengenai apa dan siapa tumpuan harapan hidup kita, ditambah dengan sikap kita yang kurang percaya.

Oleh karena penyertaan Tuhan yang telah bangkit, pikiran kita yang tadinya gelap kini menjadi terang menyala-nyala, mata kita menjadi “terbuka” dan hati kita pun berkobar-kobar akan semangat karena sekarang kita mengerti bahwa Yesus selalu hadir didalam setiap musim kehidupan kita.

Perjumpaan bersama Yesus membawa kesadaran baru bagi kita semua untuk berbalik dari kehidupan yang suram menuju ke kehidupan yang penuh harapan di dalam kasih-Nya.

Doa: Allah Bapa yang Maharahim, bantu dan tolonglah kami untuk dapat menyadari akan kehadiran-Mu yang begitu dekat di dalam kehidupan kami. Jangan biarkan tantangan di dalam kehidupan kami mengaburkan kesadaran dan penglihatan kami akan kehadiran-Mu. Bawa kami lebih dalam akan pengalaman kasih-Mu yang hidup. Amin.