Lahir Baru

Renungan Selasa 30 April 2019

Bacaan: Kis. 4:32-37 ; Mzm. 93:1ab.1c-2.5 ; Yoh. 3:7-15

Dalam dunia pengadilan, ada saksi yang meringankan dan ada saksi yang memberatkan. Ternyata dalam pewartaan Injil juga digunakan istilah saksi. Pertanyaannya, termasuk saksi yang manakah kita? Saksi yang meringankan Yesus maksudnya tentu saja kita berani mewartakan tentang Yesus dan hidup dalam iman akan Tuhan Yesus. Sebaliknya, kita menjadi saksi yang memberatkan apabila hidup kita berlawanan dengan ajaran Yesus, membuat orang tidak tertarik sama sekali untuk mengenal Yesus.

Bacaan pertama menyebutkan “dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah” (Kis. 4:33). Kesaksian para rasul bukan hanya melalui pewartaan yang meyakinkan tentang Tuhan Yesus, melainkan juga melalui cara hidup yang baru, yang  ditandai dengan persekutuan atau tata relasi umat beriman yang sehati dan sejiwa, dan tidak ada seorangpun yang berkekurangan. Luar biasa bukan? Ternyata pengalaman kebangkitan yang sejati selalu mendorong umat beriman untuk hidup rukun, sehati dan sejiwa, suka berbagi sedemikian rupa sehingga semua berkecukupan dan sejahtera.

Nah, apa makna perayaan Paskah bagi kita? Apakah Paskah sungguh telah mengubah kita?  Apakah hidupku sudah semakin sehati dan sepikir dengan rekan-rekan dalam komunitas, atau dengan keluarga di rumah? Apakah aku suka berbagi rezeki kepada sesama yang berkekurangan?  Orang yang sungguh mengalami kebangkitan Tuhan tentu suka hidup rukun, damai dan membantu sesama yang berkekurangan. Sudahkah aku lahir baru dan berbuah bagi sesamaku?

Dalam percakapan dengan Nikodemus, Yesus mengatakan bahwa manusia harus dilahirkan kembali, lahir baru dalam Roh, lahir baru sebagai anak Allah yang kudus, karena manusia telah mati akibat pelanggaran dosa, sehingga kehilangan kemuliaan Allah. Manusia harus lahir kembali agar dapat terhubung kembali dengan Allah, menjadi sadar dan mengakui Yesus adalah Juru Selamat.

Pengalaman pribadi saya mengalami lahir baru di sebuah retret. Saat doa pagi, dengan tiba-tiba saya merasakan suatu kerinduan yang membara dalam hati untuk lebih dekat lagi kepada Tuhan. Setelah saya mampu mengendalikan diri, saya menyadari timbulnya suasana hati yang indah, damai dan sukacita. Sejak saat itu saya juga memiliki kerinduan agar orang lain juga mengalami apa yang saya alami dan rasakan.

Doa: Tuhan Yesus, kematian-Mu telah memberiku hidup baru. Penuhiku dengan Roh Kudus supaya aku boleh berjalan dalam kebebasan dan sukacita karena tahu Engkau mencintaiku dan telah mengalahkan maut dan kematian. Bantulah kami selalu untuk hidup rukun dan saling mengasihi satu dengan yang lain, serta rela membantu sesama kami yang membutuhkan uluran kasih dari kami.

Meidy Maringka