Ketaatan Seorang Hamba

Renungan Minggu 14 April 2019

Bacaan: Luk 19:28-40Yes. 50:4-7Mzm. 22:8-9,17-18a,19-20,23-24Flp. 2:6-11Luk. 22:14- 23:56 (Luk. 23:1-49)

Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. (Yes. 50:6)

Hari Minggu Palma mengawali Pekan Suci di mana kita mengenangkan sengsara Tuhan Yesus. Dimulai dengan sukacita ketika Yesus dielu-elukan saat memasuki kota Yerusalem (Luk. 19:28-40), dilanjutkan dengan kisah sengsara Yesus (Luk. 22:14 – 23:56), di mana Yesus merendahkan diri-Nya sebagai seorang hamba yang taat sampai mati di kayu salib (Flp. 2:6-11).

Dalam Yes. 50:4-7 Nabi Yesaya menulis tentang ketaatan seorang hamba Tuhan bahkan pada saat ia mengalami penderitaan. Hal ini juga merupakan gambaran penderitaan yang akan dialami oleh Yesus. Walaupun Ia merasa takut, namun Yesus tetap taat pada kehendak Bapa (Luk. 22:42).

Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga seorang hamba yang taat? Apakah kita mampu mengosongkan diri dari kepentingan pribadi dan melayani dengan tulus? Ketika dalam penderitaan, apakah kita mengandalkan kekuatan sendiri atau mengandalkan Tuhan?

Saya teringat suatu peristiwa ketika saya mau membantu seorang teman sepelayanan di wilayah. Namun ia justru berprasangka negatif dan memutarbalikkan fakta. Di mana yang benar dibuat menjadi salah, dan yang salah dibuat menjadi benar. Seperti hoaks yang banyak terjadi di media sosial saat ini. Kemudian peristiwa ini menjadi viral karena ia menceritakan versinya ke beberapa orang untuk mendapatkan dukungan dan mengancam untuk berhenti. Saya sempat merasa sedih, kecewa dan gusar. Niat baik mau membantu malah dianggap sabotase. Namun Tuhan menjawab kegalauan saya melalui pendapat seorang teman. Saya tidak perlu mencari pembenaran dari manusia. Tuhan lebih tahu niat baik saya. Peristiwa ini tidak perlu menghambat pelayanan saya. Saya perlu mengosongkan diri dari segala kepentingan agar dapat tetap tulus melayani sebagai seorang hamba yang taat. Jika Tuhan menghendaki saya mengalami peristiwa ini maka ini merupakan sarana untuk proses pendewasaan iman saya.

Berusaha selalu taat sebagai seorang hamba tidaklah mudah. Banyak tantangan yang menguji ketaatan kita sebagai hamba Tuhan, di mana pun dan dalam situasi apapun.

Doa: Tuhan, mampukan hamba-Mu untuk selalu taat pada kehendak-Mu dalam suka maupun duka, agar pelayanan kami menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kami. Amin. (ARK)