Iman Yang Menyelamatkan

Renungan Selasa 9 April 2019

Bacaan: Bil. 21:4-9 ; Mzm. 102:2-3.16-18.19-21 ; Yoh. 8:21-30

…jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu. (Yoh 8:24b)

Hari ini Yesus bersabda kepada orang banyak (juga kepada-ku) : “Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang….Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini……. jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu”. (Yoh 8:21b.23.24b)

Yesus diutus Bapa turun ke dunia, menjelma menjadi manusia untuk membebaskan dan menyelamatkan kita manusia, yang telah terjerumus ke dalam dosa, agar kembali ke jalan yang benar, tidak terpisah dari Allah, dan sesuai dengan tujuan awal Bapa menciptakan manusia yaitu serupa dengan-Nya dan baik adanya. Secara fisik, Yesus sama dengan manusia biasa. Bedanya, Dia punya kuasa dan daya Ilahi. Meski telah banyak tanda dan mukjizat dibuat-Nya, namun banyak orang masih meragukan, tidak percaya dan menolak Dia sebagai Sang Juru Selamat, bahkan mengorbankan Dia sampai wafat di salib. Kalau mereka yang hidup pada zaman Yesus, mendengarkan sendiri sabda-Nya, menyaksikan dan mengalami langsung tanda dan mukjizat-Nya, masih ragu dan tidak percaya, bagaimana dengan kita yang hidup sekarang ini, yang secara fisik dan kasat mata tidak pernah berjumpa dengan Yesus?

Dalam kegiatan Pramuka  yang saya ikuti saat di SMP dan SMA dulu, ada suatu kegiatan yang namanya mencari jejak. Kita dibagi dalam beberapa kelompok/regu, yang masing-masing berisi sekitar 5-10 orang. Kemudian kita diminta menuju ke suatu tujuan tertentu melalui jalan yang sudah ada petunjuknya. Petunjuk/tanda (berupa tumpukan batu, patahan ranting, atau teka-teki) itulah yang akan menuntun kita ke tujuan yang dimaksud. Dibutuhkan kepatuhan dan kemampuan untuk memahami dan mengerti apa arti petunjuk/tanda yang sudah disediakan. Kalau pemahaman kita benar maka kita akan sampai ke tujuan dengan selamat. Sebaliknya kalau salah, risikonya kita bisa tersesat dan tidak sampai ke tujuan.

Yesus memang tidak bersama kita secara fisik saat ini. Namun kita dapat menemui-Nya, menyapa dan merasakan kehadiran-Nya melalui pendalaman dan penghayatan firman-Nya, sabda yang hidup. Juga melalui Roh Kudus yang diutus sebagai penolong dan penghibur kita, yang telah kita terima saat pembaptisan. Yesus adalah petunjuk dan jalan menuju Bapa, pemberi keselamatan dan hidup yang kekal sebagai tujuan akhir hidup manusia. Tidak mungkin seseorang sampai kepada Bapa tanpa melalui perantaraan Yesus, karena Yesus yang berasal dari atas (surga), telah membuka jalan dengan turun ke dunia, dan memberikan petunjuk/tanda untuk kita ikuti dan pahami agar sampai ke tujuan dan beroleh keselamatan.

Percaya dan mau menjalankan ajaran/petunjuk serta menyerahkan hidup, jiwa dan raga kita untuk dipimpin oleh seseorang yang tidak terlihat oleh mata jasmani, tidaklah mudah, meskipun kita tahu akan mendapatkan keselamatan dan hidup kekal. Dibutuhkan kemauan untuk membuka hati dengan menyediakan diri berkomunikasi dan berelasi intim dengan Tuhan melalui doa pribadi dan menghayati sabda-Nya, merendahkan hati dalam hening untuk mendengar dan lebih mengenal bisikan suara-Nya, serta kerelaan menerima setiap peristiwa hidup baik senang maupun susah, sebagai rencana keselamatan dari Tuhan. Sebagaimana bangsa Israel, bangsa pilihan Allah, harus mengalami dipagut ular dan mati, untuk dapat percaya bahwa Tuhanlah yang menyelamatkan dan memberi hidup.

Doa: Allah Tritunggal yang Maha Pengasih dan Pemurah, tuntun dan bimbing kami untuk lebih mengenal Engkau, dengan lebih mendalami dan menghayati sabda-Mu, juga untuk semakin percaya dan beriman kepada-Mu melalui karya-Mu dalam setiap peristiwa hidup kami. Lembutkanlah hati kami yang keras dan egois, yang sering memaksakan kehendak bebas kami, agar kami mampu mendengar dan mengenali suara-Mu, serta melaksanakan kehendak-Mu. Tuhan, Engkaulah harapan, kekuatan dan Juru Selamat kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin. (CEI)